Belajar Blog, Ilmu dan Pengalaman

Selasa, 22 Maret 2016

PERANAN MULTIMEDIA PEMBELAJARAN DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA

A. Konsep Mutimedia Pembelajaran

Sebelum uraian ini terurai, alangkah baiknya dipahami apa yang dimaksud media itu sebenarnya. Kata “media” berasal dari bahasa latin dan bentuk jamak dari kata “medium” yang berarti perantara atau pengantar.[1]

Media berarti perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Dengan multimedia pesan ditampilkan melalui komputer sehingga user dapat melihat, mendengar, dan saling berinteraksi dan mengontrol media tersebut. Multimedia merupakan suatu sistem karena multimedia merupakan teknologi yang menggabungkan berbagai sumber media seperti teks, grafik, suara, animasi, video yang disampaikan dan dikontrol sistem komputer secara interaktif. Multimedia pembelajaran memanfaatkan fleksibilitas komputer untuk memecahkan masalah-masalah belajar. Sebagaimana kebanyakan sistem mengajar, komputer dapat digunakan sebagai alat mengajar terutama untuk memberi penguatan belajar awal, merangsang dan memotivasi belajar, atau untuk berbagai jenis kemungkinan lainnya.

Akhirnya, dapat dipahami bahwa media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan pesan guna mencapai tujuan proses belajar mengajar.



B. Peran Media Sebagai Alat Bantu dan Sumber Belajar

Media sebagai alat bantu dan sumber belajar dalam proses belajar adalah suatu kenyataan yang tidak dapat di pungkiri. Karena memang gurulah yang menghendakinya untuk membantu menyampaikan pesan-pesan dari bahan pelajaran yang diberikan guru kepada anak didik dan sebagai sumber bahan ajar siswa.[2]

Anak didik cepat merasa bosan dan kelelahan tentu tidak dapat mereka hindari. Dikarenakan penjelasan guru yang diberikan sukar dicerna oleh siswa. Hal ini tentu saja dicarikan jalan keluarnya. Jika seorang guru tidak dapat menjelaskan dengan baik, alangkah baiknya jika menghadirkan media sebagai sumber dan alat bantu pengajaran guna mencapai tujuan pelaksanaan pengajaran.

Media sebagai sumber belajar diakui sebagai alat bantu auditif, visual, audiovisual.[3] Penggunaan ketiga jenis sumber tersebut tidak sembarangan, tetapi harus disesuaikan dengan perumusan tujuan instruksional, dan tentu saja dengan kompetensi guru itu sendiri, dan sebagainya.

Sebagai alat bantu dan sumber belajar, media mempunyai fungsi yaitu membantu guru menambah wawasan siswa dan melicinkan jalan menuju tercapainya tujuan pengajaran.

C. Macam-macam Media

Media yang telah dikenal sekarang ini tidak hanya terdiri dari dua jenis saja, akan tetapi sudah lebih dari itu. Semua itu akan dijelaskan pada pembahasan berikut.

1. Dilihat dari Jenisnya, Media Terbagi Dalam :

a. Media Auditiv

Media yang mengandalkan kemampuan suara saja, seperti radio, cassete reccorder, dan lain-lain

b. Media Visual

Media ini hanya mengandalkan indra penglihatan yang nantinya berupa gambaran-gambaran tentang apa yang akan disampaikan, seperti film strip (film rangkai), slides (film bingkai) foto, dan sebagainya.

c. Media Audiovisual

Media yang berfungsi ganda, yaitu dapat menampilkan objeb gambar dan juga dapat membunyikan suara. Seperti film suara dan vidio cassete.

2. Dilihat dari daya Liputnya, Media Terbagi Dalam :

a. Media dengan daya liput luas dan serentak

Penggunaan media ini tidak terbatas dan dapat mengjangkau anak didik dalam waktu yang sama.

Contoh : Radio dan Televisi

b. Media dengan daya liput yang terbatas oleh ruang dan tempat

Media yang sangat membutuhkan ruang dan tempat khusus. Seperti film, Sound slide, dan lain-lain

c. Media untuk pengajaran individual

Media yang hanya untuk seorang diri. Seperti modul berprogram dan pengajaran melalui komputer.

3. Dilihat dari Bahan Pembuatannya, Media Terbagi Dalam :

a. Media sederhana

Media yang sangat mudah di peroleh dan harganya pun sangat murah.

b. Media kompleks

Media yang bahan dan alat pembuatannya sangat sulit sangat sulit diperoleh dan harganya pun sangat mahal.



D. Fungsi-fungsi Media

Fungsi-fungsi media menurut Nana Sudjana ( 1991 ) adalah sebagai berikut :

1. Penggunaan media dalam proses belajar mengajar bukan merupakan fungsi tambahan, tetapi mempunyai fungsi sebagai sumber dan alat bantu demi mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif.

2. Penggunaan media pembelajaran merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar, bahwa pengajaran merupakan salah satu unsur yang harus di kembangkan oleh guru.

3. Media pembelajaran dalam pengajaran, penggunaannya integral dengan tujuan dari isi pelajaran. Fungsi ini mengandung pengertian bahwa penggunaan (pemanfaatan) media harus melihat kepada tujuan dan bahan pelajaran.

4. Penggunaan media dalam pelajaran bukan semata-mata alat hiburan.[4]

5. Penggunaan media dalam pelajaran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam menangkap pengertian yang diberikan guru.

6. Penggunaan media dalam pengajaran diutamakan untuk mempertinggi mutu belajar mengajar. Dengan kata lain, menggunakan media, hasil belajar yang dicapai siswa akan tahan lama diingat siswa sehingga mempunyai nilai tinggi.



[1] Syaiful Bahri Dj dan aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta, PT RINEKA CIPTA, 2006,) hal 120

[2] Syaiful Bahri Dj dan aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta, PT RINEKA CIPTA, 2006,) hal 121

[3] Auditiv (media suara). Visual (media yang nantinya berupa gambaran-gambaran). Audiovisual (media suara dan gambar)

[4] Media bukan sebagai hiburan artinya bukan semata-mata melengkapi belajar siswa supaya menarik.
Share:

Rabu, 16 Maret 2016

Konsep Belajar Mengajar Menurut Imam Al-Ghazali dalam Konteks Kajian Psikologi Belajar

A. Pendahuluan
Pendidikan merupakan aktivitas vital dalam upaya meningkatkan sumber daya manusia melalui transfer ilmu pengetahuan, keahlian dan nilai-nilai kehidupan guna membekali anak didik menuju kedewasaan dan kematangan pribadinya.
Kegiatan belajar dan mengajar adalah tema sentral yang menjadi inti pelaksanaan pendidikan, karena kegiatan ini merupakan aktifitas riil yang di dalamnya terjadi interaksi antara pendidik dan anak didik. Banyak ahli pendidikan Islam yag telah memberikan perhatian serius dalam mengkaji aktivitas belajar mengajar, antara lain Al-Ghazali yang sebagian pemikirannya akan dituangkan dalam konteks belajar mengajar menurut perspektif Imam Al-Ghazali.
B. Sketsa Biografis Imam Al-Ghazali
Nama lengkapnya adalah Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali, lahir pada tahun 450 H/1058 M, di Thus, Khurasan, Iran, yang ketika itu merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan di dunia Islam. Latar belakang pendidikannya dimulai dengan belajar al-Qur’an pada ayahnya sendiri, kemudian ia belajar pada Ahmad bin Muhammad al-Razikani seorang sufi besar di Thus.
Kemudian ia melanjutkan di Naisapur, di sana ia berguru dan belajar pada imam al-Haramayn al-Juawaini. Karena kecerdasan dan kemampuannya, imam al-Ghazali diberi gelar “bahr al-muqhirq” (bahtera yang menghanyutkan).
Pada tahun 1091, al-Ghazali diangkat menjadi guru besar pada madrasah Nizamiyah. Tepatnya pada usia 34 tahun, ia diangkat menjadi pimpinan lembaga pendidikan tersebut. Setelah empat tahun menjabat, al-Ghazali meninggalkan Baghdad dan memulai pengembaran sufistiknya, menyendiri dan melakukan meditasi serta menikmati kedekatan dengan Tuhannya.
Pada tahun 499 H/1106 M, ia kembali ke Naisabur mengajar di madrasah Nizamiyah, yang pada akhirnya ia kembali ke Thus, beribadah dan mengajar al-Qur’an dan al-Hadits hingga akhir hayatnya.
C. Konsep Belajar Menurut Imam Al-Ghazali
Al-Ghazali menyatakan bahwa wajib hukumnya belajar (menuntut ilmu). Kewajiban menuntut ilmu ini ia kutip dari sabda Rasulullah SAW yang menyatakan, tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina sekalipun.
Adapun tujuan belajar menurut al-Ghazali sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah. Al-Ghazali tidak membenarkan belajar dengan tujuan duniawi. Sebagaimana al-Ghazali menyatakan: “Hasil dari ilmu pengetahuan sesungguhnya adalah mendekatkan diri kepada Allah, Tuhan sekalian alam, dan menghubungkan diri dengan malaikat yang tinggi dan berkumpul dengan alam arwah. Semua itu adalah keagungan dan penghormatan secara naluriyah”.
Bertolak dari pemikiran tersebut tujuan belajar dapat diklasifikasi kepada tiga, yaitu:
1. Tujuan pempelajari ilmu pengetahuan semata-mata untuk ilmu pengetahuan itu sendiri sebagai wujud ibadah kepada Allah.
2. Tujuan utama belajar adalah pembentukan akhlak karimah.
3. Tujuan belajar mengantarkan peserta didik mencapai kebahagian dunia dan akhirat.
Dalam belajar dan pembelajaran, al-Ghazali mengajarkan bahwa belajar adalah proses memanusiakan manusia sejak masa kejadiannya sampai akhir hayatnya melalui berbagai ilmu pengetahuan yang disampaikan dalam bentuk pengajaran yang bertahap, dimana proses pembelajaran itu menjadi tanggung jawab orang tua dan masyarakat menuju pendekatan diri kepada Allah menjadi manusia sempurna.
Berdasarkan pernyataan di atas, ada beberapa hal yang menjadi perhatian al-Ghazali, yaitu:
1. Belajar dan pembelajaran adalah proses memanusiakan manusia.
2. Waktu belajar adalah seumur hidup. Dimulai sejak lahir hingga meninggal dunia.
3. Belajar adalah sebuah pengalihan ilmu pengetahuan.
Berkaitan dengan pernyataan di atas Reber dan Wilke, tokoh psikologi kognitif menyatakan, “Learning is a relatively permanent change in respons potentiality which occurs as a result of enforced pratice”. (Belajar sebagai suatu perubahan kemampuan bereaksi yang relatif langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat). Sedangkan menurut Winkle belajar adalah suatu proses mental yang mengarah pada suatu penguasaan pengetahuan, kecakapan, kebiasaan atau sikap yang semuanya diperoleh, disimpan dan dilaksanakan sehingga menimbulkan tingkah laku yang progresif dan adaptif.
Adapun proses belajar seseorang harus memperhatikan perkembangan psikologis anak, dalam hal ini al-Ghazali mengemukan tentang proses perkembangan psikologis anak, yang terdiri dari beberapa tahapan diantaranya sebagai berikut:
a. Al-Janin, yaitu tingkat perkembangan anak ketika berada dalam kandungan dan setelah ditiupkan roh pada umur empat bulan.
b. Al-Thifl, yaitu tingkatan anak yang bisa dicapai dengan memperbanyak latihan dan kebiasaan sehingga mengetahui aktifitas dan perilaku yang baik dan buruk.
c. Al-Tamyis, yaitu tingkatan anak yang dapat membedakan sesuatu yang baik dan buruk, bahkan lebih jauh dari itu, akalnya telah dapat menangkap dan memahami ilmu dharuri.
d. Al-Aqil, yaitu tingkatan yang dicapai seseorang yang sempurna akalnya bahkan telah berkembang akalnya sehingga dapat menguasai ilmu dharuri.
e. Al-Awliya dan al-Anbiya’, yaitu tingkatan tertinggi dari perkembangan manusia.
Al-Ghazali memandang bahwa sistem otak sebagai suatu hal yang terpenting dalam perkembangan belajar anak, oleh karenanya ia memberikan perhatian khusus terhadap perkembangan pikiran anak dengan lima perkembangan dia atas.
D. Konsep Mengajar Menurut Imam Al-Ghazali
Al-Ghazali berpandangan “idealistik” terhadap profesi guru. Idealisasi guru, menurutnya adalah orang yang berilmu, beramal dan mengajar. Dari sini al-Ghazali menekankan keterpaduan ilmu dan amal. Berangkat dari perspektif inilah, al-Ghazali menandaskan bahwa orang sibuk mengajar merupakan orang yang bergelut dengan sesuatu yang amat penting, sehingga ia perlu menjaga etika dan kode etik profesinya. Lebih lanjut al-Ghazali berpandangan bahwa konsep mengajar sebagai berikut:
1. Memelihara anak dari perbuatan tercela.
2. Membimbingnya agar menjadi anak yang shaleh.
3. Menjauhkan anak dari pergaulan yang jelek.
4. Mengajarkan cara yang benar dalam mencari rezki.
5. Mengajar anak agar tidak sombong.
6. Mengajarkan al-Qur’an.
7. Memberikan kesempatan untuk bermain dan berolahraga untuk menggembangkan penalaran.
Berkaiatan dengan mengajar, al-Ghazali membahas kedudukan dan fungsi guru sebagai pengajar. Ia memandang guru sebagai berikut:
A. Guru sebagai pengajar sekaligus pembimbing.
Al-Ghazali menegaskan bahwa guru berfungsi sebagai penuntun dan pembimbing bagi anak didik. Al-Ghazali menganjurkan agar guru mengajar membimbing dengan penuh kasih sayang sebagaimana ia mengajar dan mendidik anaknya sendiri. “Didilah muridmu dan perlakukanlah mereka seperti anakmu sendiri”, pesan al-Ghazali pada para guru. Bahkan al-Ghazali mengutip sabda Rasulullah; “Ssesungguhnya aku ini bagimu adalah seumpama seorang ayah bagi anaknya. (HR. Abu Dawud, al-Nasa’i, Ibn majah, Ibn Hibban dari Abu Hurairah).
Menurutnya pengajar (guru) adalah orang yang berusaha membimbing, menyempurnakan, dan mensucikan hati sehingga menjadi dekat dengan khaliqnya. Fungsi ini didasarkan pada pandangan bahwa manusia merupakan makhluk yang mulia. Kemuliaan manusia terletak pada kesucian hatinya. Untuk itu pengajar dalam perspektif Islam melaksanakan proses pendidikan hendaknya diarahkan pada aspek tazkiyah al-nafs.
B. Al-Ghazali menyatakan, mengajar adalah pekerjaan dan tugas yang mulia.
Berkaitan dengan hal ini, al-Ghazali menyatakan: “Maka seorang yang alim mau mengamalkan apa yang telah diketahuinya, maka yang dinamakan seorang yang besar di semua kerajaan langit, dia seperti matahari yang menerangi alam-alam yang lain”.
Bahkan al-Ghazali memberikan dalil aqli terhadap kemuliaan guru yaitu dengan menyatakan bahwa seorang guru lebih mulia daripada pandai emas karena seorang mengolah, membimbing manusia yang merupakan makhluk termulia di sisi Allah, sehingga pekerjaan guru lebih baik dan lebih mulia daripada pekerjaan apapun.
C. Dalam mengajar guru harus memberikan teladan bagi murid.
Sebagai seorang yang mengajar, membimbing dan mengarahkan, guru harus menjadi teladan dan contoh bagi murid-muridnya. Untuk ini, seorang guru menjaga kewibawaan di hadapan murid-muridnya. Ia harus dapat menghiasi dirinya dengan perbuatan-perbuatan yang terpuji, sehingga akan terpancar dari dirinya cahaya kemuliaan.
Jadi, seorang guru dituntut memiliki sifat-sifat keteladanan yang menjadi keutamaan bagi kepribadiannya. Adapun sifat-sifat tersebut adalah:
1. Sabar dalam menanggapi pertanyaan peserta didik.
2. Senantiasa bersifat kasih, tanpa pilih kasih.
3. Duduk dengan sopan, tidak riya’, dan pamer.
4. Tidak takabbur, kepada orang-orang yang dzalim dengan maksud mencegah tindakannya.
5. Bersikap tawadlu’ dalam setiap pertemuan ilmiah.
6. Sikap dan pembicaraan hendaknya tertuju pada topik persoalan.
7. Memiliki sifat bersahabat terhadap semua peserta didiknya.
8. Menyantuni dan tidak membentak orang-orang bodoh.
9. Membimbing dan mendidik peserta didik yang bodoh dengan cara yang sebaik-baiknya.
10. Menampilkan hujjah yang benar.
D. Guru harus memotivasi muridnya.
Sebagai seorang yang mengajarkan ilmu kepada murid-muridnya, maka seorang guru harus dapat membangkitkan semangat belajar anak, terutama sekali bagaimana anak dapat mempelajari ilmu pengetahuan yang sedang dipelajari gurunya. Di sinilah terletak tanggung jawab guru, yaitu ia dapat menularkan ilmunya kepada muridnya sekaligus bertanggung jawab terhadap keberhasilan belajar murid. Tentang tanggung jawab ini al-Ghazali menyatakan ”Seorang guru harus bertanggung jawab pada pelajaran yang diajarinya dan membuka jalan yang seluas-luasnya untuk mempelajari bidang studi lain”.
Sebagai motivator itulah, seorang guru harus membangkitkan semangat murid dalam belajar, yang menurut motivasi menunjuk kepada semua gejala yang terkandung dalam stimulasi ke arah tujuan dimana sebelumnya tidak gerakan ke arah tujuan tersebut. Dengan demikian jelaslah bahwa guru harus memotivasi murid-muridnya agar dapat berhasil dalam kegiatan belajarnya.
E. DAFTAR RUJUKAN
H.M.Muchlis Sholichin, Psikologi Belajar Aplikasi Teori Belajar dalm pembelajaran. Surabaya: Pena Salsabila, 2013. Hlm, 263
Siswanto, Filsafat dan Pemikiran Pendidikan Islam. Surabaya: Pena Salsabila, 2015. Hlm, 98
H. Mohammad Muchlis Solichin (ed), Memotret Guru Ideal-Profesional. Surabaya: Pena Salsabila, 2013. Hlm, 35
Share:

Senin, 14 Maret 2016

KARAKTERISTIK PENDIDIK MENURUT KITAB TARBIYATUH FI SUNNATIN NABAWIYAH

Pendidik
Tanggung jawab pendidik
Rasulullah SAW bersabda (setiap kalian aalah pemimpin dan setiap peminpin dimintai pertanggung jawaban dari rakyatnya (yang dipimpinnya).
Barangkali termasuk tanggung jawab yang paling penting yang bergantung pada jaminan pendidik,
Adalah ketika diwakilkan kepadanya sekelompok anak-anak atau pemuda dan pendidikan mereka serta kelulusan mereka atas keutamaan dan kebaikan.
Dan karena inilah maka wajib atas pendidik untuk memelihara keridhaan Tuhannya.
Dan demikian itu dengan melaksanakan kewajiban yang merupakan amanah dan tanggung jawab yang berat atas paling bagusnya jalan dan paling sempurnanya jalan.
Maka itu adalah tanggung jawab menjadi beban pendidik terhadap para pengikutnya di hadapan Allah.
Sifat-sifat yang harus dimiliki seorang pendidik.
Seorang pendidik tidak mungkin melaksanakan amanah tersebut
Kecuali ketika terdapat padanya sejumlah sifat-sifat mulia dan pemberian yang agung
Yang akan memudahkan cita-citanya.
Ikwanus shifa berkata (ketahuilah wahai saudara bahwa sesungguhnya keberuntungan
Adalah sesuai bagian seorang pengajar yang cerdas dan bagus tabiatnya, bagus akhlaknya, murni
Hati, penyinta pengajaran, pencari kebenaran, tidak fanatik kepada satu pendapat dari
Berbagai mazhab.
Ibnu sina menilai bahwa seorang pengajar anak-anak patut sebagai seorang yang:
1. Berakal
2. Beragama
3. Banyak melihat dengan latihan akhlaq
4. Cakap dengan meluluskan anak-anak
5. Berwibawa
6. Bersungguh-sungguh
7. Tidak sempit gagasan dan
8. Lembut
9. Pandai
10. Disegani
11. Bersih
12. Rapi
Ibnu aljama’ah mensyaratkan dalam seorang pendidik (berseri wajahnya dan menyebarkan
Salam dan memberi makan dan menahan marah dan mencegah menyakiti dari
Manusia dan bergaul dan memuliakan serta tidak minta di muliakan .
Dan sifat-sifat ini serta tingkah laku yang terpuji dianggap sebagian sifat-sifat
Rasulullah SAW, yaitu seorang yang sempurna dan pengajar pertama
Dimana ahklaqnya adalah Al-Qur’an beliau ridha dengan ridhonya dan marah dengan marahnya
Dan diantara sifat-sifat yang sungguh-sungguh Rasulullah
Tanamkan adalah tawadhu’ dan sabar dan keduanya termasuk sebagian sifat yang paling murni
Yang patut atas seorang pendidik untuk berhias dengannya. Sejarah menceritakan pelajaran tersebut.
Nabi Khidir as dalam ceritanya berserta Nabi Musa as mencontohkan tawadhu’ dan sabar.
Saat Nabi Musa bertanya padanya (apakah aku boleh mengikutimu agar engkau mengajariku
Dari jalan kebenaran? Nabi Khidir berkata: sesungguhnya engkau tidak akan mampu bersamaku dengan sabar.! Wahai Musa, sesungguhnya aku atas ilmu dari ilmu Allah yang Dia telah mengajarkannya padaku yang engkau tidak mengetahuinya. Dan engkau atas pengetahuan yang telah Allah ajarkan padamu yang tidak aku ketahui. Musa berkata Insya Allah engkau akan mendapatkan sebagai orang yang sabar dan aku tidak akan ingkar pada perkara yang dilakukanmu.
Maka Khidir mengembalikan ilmunya seluruhnya milik Allah dan dia tidak meninggalkannya sesuatu dari ilmunya untuk dirinya dan tidak juga bagi tuannya. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu dan dia adalah makna yag menjadikannya mencari jalan dan istiqamah yang keduanya menghapuskan permusuhan dari orang yang berhubungan pada ilmu pengetahuan.
Kisah Musa dan Khidir meletakkan dasar untuk memelihara arti tawadhu’ dan meninggalkan sombong dan mengukuhkan pengetahuan yang mencerdtaskan. Karena sesungguhnya Musa berdiri dan berpidato pada Bani Isroil, maka dia ditanya: siapakah manusia yang paling tahu?
Maka Musa berkata: akulah yang paling tahu, maka Allah menegurnya karena tidak mengembalikan ilmunya kepadaNya, maka Allah memberinya wahyu bahwa seorang hamba dari hmba-hambaku pada tempat berkumpulnya dua samudra lebih tahu darimu. Maka kisah bertemunya Musa dengan Khidir a.s dan permulaan perjalanan ilmiahnya yang diberkati yang mengandung banyak hikmah merupakan adab yang berlimpah dan diatasnya adalah tawadhu’ serta rendah hati bagi seorang pengajar.
Dan sungguh Rasulullah telah bersabda (tidaklah Allah menambah pada seseorang dengan ampunan, kecuali pada kemuliaan dan tidaklah seseorang tawadhu’ kepada Allah, kecuali Allah mengangkat drajatnya.). aisyah r.a mencontohkan tawadhu’ dalam ujian kebohongan yang dituduhkan padanya dari penjahat munafik memutar balikkannya, maka mempengaruhinya. Sesungguhnya Aisyah berkata (demi Allah, aku tidak menyangka bahwa sesungguhnya Allah akan menurunkan wahyu yang akan dibacakan dalam pembebasanku.
Dan karena keperluanku dalam diriku adalah lebih tercela daripada Allah harus berkata padaku dengan perkara yang akan dibacakan akan tetapi aku berharap supaya bermimpi Rasulullah SAW dalam tidur yang Allah akan membebaskanku dengan mimpi itu. Maka Allah menurunkan sesungguhnya orang-orang yang datang dengan kebohongan ) maka sungguh Aisyah berperilaku dengan adab Rasulullah
Beliau adalah pendidik yang meletakkan paling indahnya adab, paling eloknya adab, paling belasnya adab, dan paling pentingnya adab atas pertumbuhan kepribadian pada para sahabatnya serta mengajarkan mereka pada paling bagusnya adab.
Rasulullah duduk di antara punggung para sahabat tanpa beban dan tidak membedakan dirinya dari mereka dengan sesuatu di saat damai dan perang dan senang juga enggan, kecuali bersamanya dari berisik dan bergurau yang kelewatan, dan mengangkat suara yang keras. Rasulullah memenuhi hati majalisnya dengan hebat dan berwibawa. Rasulullah memandang mereka dengan pandangan tajam dan beliau mengelilingi (hati mereka, maka tidaklah mereka menyebutnya kecuali dengan cinta yang besar dan menakjubkan yang dari mereka miliki. Maka hati mereka dibuka agar berteman dengan cinta dan rasa mabuk berat untuk menghadapnya maka mereka sangat mabuk kepayang dan salah seorang dari mereka tidak meretakkannya dengan bid’ah
Rasulullah tidak menetapi kelurusan ini dan keindahan dalam pergaulannya saja. Beliau adalah seperti yang dikatakan Abdullah Bin Umar (dia tidaklah orang yang berbuat jahat dan tidaklah menjadi jahat).
Bahkan beliau adalah manusia yang paling bagus akhlaqnya atas pandangan Barro Bin ‘Aaib dan pastinya disamping itu beliau sangat berusaha atas keindahan lahirnya. Beliau berpandangan tajam, cerdas dan mengagumkan tidaklah ajaib karena lahiriyah Rasulullah sesuai dengan batinnya dan perbuatannya sepadan dengan perkataannya.
Karena sabdanya dan dialah yang bersabda (sesungguhnya termasuk orang-orang pilihan dari kalian adalah yang paling bagus akhlaqnya).
Rasulullah sangat mengharuskan para sahabatnya untuk tetap berbuat baik dan harus dalam segala sesuatu. Rasulullah bersabda untuk mereka (sesungguhnya petunjuk yang baik dan menetapi jalan yang baik dan benar adalah bagian dari 25 bagian dari kenabian.




Share:

Sabtu, 12 Maret 2016

pengaruh pendidikan berbasis spiritual terhadap perilaku anak di rumah,serta siswa di sekolah

PENDAHULUAN
Ada kekhawatiran yang menyeruak, ketika menyaksikan tawuran antar pelajar terjadi dimana-mana, serta ada kegundahan yang timbul ketika melihat para siswa berteriak girang ketika tahu bahwa gurunya tidak datang pada hari ini.
Mengapa khawatir? Realitas pertama menunjukkan bahwa para pelajar saat ini begitu dekat dengan kekerasan, yang nyata-nyata sangat bertolak belakang dengan dunia mereka yang seharusnya bergelimang dengan nuansa pendidikan dan keilmuan. Seharusnya dunia yang terlahir dari “Rahim kasih sayang” tersebut dibesarkan dengan naluri kasih sayang, sebagaimana naluri kasih sayang seorang ibu dalam mengasuh dan mendidik anaknya.
Mengapa gundah? Realitas kedua menyiratkan akan redupnya kasih sayang dalam interaksi antara para guru dengan siswa-siswanya. Kerenggangan hubungan terasa sangat kental saat para guru lebih suka menghukum daripada tersenyum, lebih suka menghardik daripada bersikap empatik. Sehingga pertemuan antara keduanya selalu dalam keadaan terpaksa, yang akhirnya keterpaksaan tersebut melahirkan rasa terbebani untuk menjalani pertemuan tersebut.
A. Latar Belakang
Dengan adanya temuan seperti yang tersebut diatas, maka dirasa sangat perlu sekali untuk mengangkat topik ini dalam penulisan artikel kami, karena saat ini hal seperti yang tersebut diatas sudah sering sekali terjadi di sekeliling kita, terutama di kalangan para insan pendidik yang setiap hari kerap menemui seperti apa yang tersebut di atas walaupun dalam skala kecil. Semua hal yang menjadi besar itu pasti dimulai oleh hal-hal kecil yang sepele, atau disepelekan.
Tingkah laku kekerasan yang dilakukan siswa, sering sekali diinspirasi oleh tontonan yang tersuguh di hadapan mereka. Seperti film-film kekerasan yang didominasi oleh berandalan-berandalan dan anak-anak yang kurang kasih sayang orang tua.
Kesenjangan hubungan antara guru dan siswanya, sering kali dipicu oleh keinginan para guru untuk selalu dituruti dan dipatuhi segala ucap dan perintahnya, tanpa berusaha memahami tentang faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi jiwa para siswanya untuk tergugah menjadi anak yang penurut dan patuh.
B. Rumusan Masalah
Dengan berlandaskan pada latar belakang masalah diatas, kami mencoba merumuskan tentang betapa besarnya akibat yang akan terjadi jika kedua masalah tersebut dibiarkan berlarut-larut, atau malah dicarikan alasan pembenar dalam pembiaran terhadap kasus tersebut. Belakangan ini sering sekali terjadi aksi saling tuding dan saling lempar tanggung jawab atas kasus yang terjadi seperti yang tersebut diatas antara peran orang tua di rumah dan peran guru di sekolah.
Jika masalah-masalah diatas tetap terjadi diantara lingkungan dunia pendidikan, maka dapat dipastikan hal tersebut akan menodai kesucian institusi pendidikan di tanah air, karena dianggap tidak mampu memberikan penyadaran-penyadaran tentang betapa pentingnya arti kasih sayang dan akhlak mulia diantara sesama. Serta hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan, terutama kepada para insan pendidik yang berdedikasi didalamnya sejak dari PAUD sampai Perguruan Tinggi, karena dianggap institusi tersebut hanya melahirkan para sarjana yang tahunya hanya menghukum dengan cara yang sangat tidak bijak sekali. Dengan rumusan diatas, maka akan kita dapati sebuah pertanyaan “Apa pengaruh pendidikan berbasis spiritual terhadap perilaku anak di rumah,serta siswa di sekolah?”.
C. Tujuan penulisan
Dalam penulisan artike ini, kami bertujuan untuk berbagi sedikit solusi, sekaligus sebagai wahana introspeksi diri bagi kami dalam menjalankan aktivitas sebagai tenaga pendidik di Lembaga Pendikan masing-masing, agar senantiasa kami tidak terjerumus pada tindakan yang selalu mencari alasan-alasan pembenar atas semua kekurangan kami dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab mendidik anak didik kami masing-masing, supaya nantinya menjadi seseorang yang berdaya guna optimal, yang disertai budi pekerti, dan didasari oleh keteguhan iman dan takwa.
PEMBAHASAN
Sungguh ironis sekali, jika tempat “suci” seperti sekolah yang seharusnya menunjukkan suatu citra kasih sayang dan kelembutan, kini tidak lagi menggambarkan sebagai tempat mencetak para cerdik pandai penentu masa depan bangsa, karena tercoreng oleh tindakan segelintir siswanya yang menyukai tindak kekerasan baik antar siswa di sekolah yang sama, ataupun dengan siswa di sekolah lain, walaupun masih sangat banyak sekali sekolah-sekolah yang masih sangat elok dipandang mata dalam aspek kondusifitas lingkungan sekolah dan perilaku siswanya.
Dalam hal ini, peran para orang tua dan guru sama-sama besarnya dalam ikut menentukan kematangan mental dan sikap mereka dalam kebaikan, agar siswa-siswa tersebut terhindar dari memiliki sifat yang bengal, bandel, dan beringas. Dalam hal ini para orang tua dan guru tidak boleh saling melempar tanggung jawab, karena kapan pun dan dimana pun mereka tetaplah berstatus anak bagi para orang tua, dan siswa bagi para guru.
Dalam hal ini, kebanyakan para orang tua dan guru sudah terjebak dalam asumsi bahwa tanggung jawab orang tua menjadi lepas ketika anaknya sudah ada di sekolah, serta para guru bahwa mereka lepas dari tanggung jawabnya ketika para siswa sudah pulang ke rumah masing-masing, dan sudah melepas seragam identitas sekolahnya. Sehingga jika terjadi perilaku menyimpang dari anak-anak ini maka yang sering sekali kita temui adalah kedua pihak ini malah saling tuding, dan saling lempar tanggung jawab daripada duduk bersama untuk menemukan solusi guna keluar dari masalah ini, serta melakukan tindakan antisipatif agar penyimpangan tersebut tidak terjadi lagi baik pada anak yang sama atau pada anak yang lain.
Sebenarnya, semua itu dipicu oleh lepasnya kontrol dari orang tua dan guru dalam memberikan pelajaran dan pendidikan. Mereka mengesampingkan pendidikan berbasis spiritual ( Spiritual Teaching ), sehingga apa-apa yang telah diajarkan baik oleh keluarga di rumah, dan guru di sekolah kurang meresap ke dalam jiwa anak-anak tersebut. Oleh karena itu melalui penulisan artikel ini, kami ingin mencoba untuk berbagi kiat yang Insyallah akan mengantarkan para pembaca untuk menjadi orang tua dan guru yang dicintai, dikagumi, dirindukan kehadirannya, dan diteladani oleh anak-anak di rumah, serta para siswa di sekolah. Belakangan ini sudah sama-sama kita ketahui, bahwa peran orang tua di rumah tidak lebih hanya sebagai sosok penyedia makanan dan tempat berteduh di rumah beserta beberapa fasilitas penunjangnya, begitu pun guru di sekolah yang perannya tak lebih dari hanya sekedar penyampai materi pelajaran dan sebagai penulis nilai di buku raport siswanya, karena banyak kasus kita jumpai seorang siswa yang berprestasi dalam bidang akademik, sedangkan dalam aspek mental dan perilakunya dia Nol besar.
Dalam menyikapi kasus kenakalan anak ini, ada beberapa kiat yang harus disiapkan dan dirasa sangat perlu sekali untuk dilakukan oleh para orang tua dan guru dalam mengantisipasi munculnya kasus-kasus seperti yang tersebut diatas, atau minimal mencegah menularnya kenakalan-kenakalan tersebut kepada anak-anak yang lain, beberapa kiat tersebut antara lain, yaitu:
1. Keteladanan Mulia.
Keteladanan mulia ini sangat efektif dalam menanamkan budi pekerti baik kepada orang lain, karena orang yang menjadi obyek tidak merasa digurui, melainkan merasa disugesti untuk berbudi pekerti baik pula ketika melihat orang tua dan guru serta orang-orang yang ada di sekelilingnya berperilaku dengan budi pekerti yang baik. Untuk memberikan keteladanan mulia ini, para orang tua dan guru diperlukan adanya persiapan mental diri mereka sendiri untuk selalu mewaspadai gejolak emosi agar tidak menjadi sosok yang mengerikan bagi anak dan para siswa, selalu menjadi sosok pemaaf -tapi bukan sosok lemah yang selalu memberikan kemakluman pada setiap tindak ke nakalan anak dan para siswa, selalu bisa menekan berkembangnya “naluri hewani” pada anak dan para siswa, tidak otoriter dan tidak terlalu demokratis -yang mana sikap otoriter atau terlalu demokratis ini bisa berakibat fatal jika diterapkan dalam jangka waktu panjang, selalu bertawakkallah.
Keteladanan mulia ini akan melahirkan ucapan serta tindakan-tindakan yang penuh dengan kasih sayang, serta jauh dari perilaku menghukum dan menghakimi, sehingga orang yang menjadi obyek dengan suka rela mendekat, patuh dan menurut kepada orang tua dan guru, karena anak-anak dan para siswa tersebut merasa “aman” jika berada di dekat mereka, dan selalu rindu pada nasehat-nasehat mereka.
2. Melembutkan Hati.
Kelembutan hati ini memang sangat penting, sehingga banyak sekali orang berupaya untuk menggapainya, diantaranya dengan menekuni Riyadah-riyadah yang dipercaya bisa mem-bawa kelembutan hati bagi pelakunya baik berupa do’a-do’a ataupun mengikuti pengajian Menejemen Qolbu, atau beberapa produk “pelembut hati” lainnya. Sebagai langkah awal para orang tua dan guru perlu memiliki tekad untuk memproklamirkan didalam hatinya untuk selalu menjadi yang terbaik bagi anak-anak dan para siswa. Proklamasikan bahwa anda para orang tua dan guru sangat mencintai mereka, proklamasikan bahwa anda para orang tua dan guru hadir demi mereka, proklamasikan bahwa anda para orang tua dan guru adalah sahabat terbaik bagi mereka, proklamasikan bahwa anda para orang tua dan guru adalah teman sejati yang selalu ada untuk mereka.
Dengan adanya “proklamasi kasih sayang” tersebut, maka itu akan menjadi suplemen penambah tenaga bagi para orang tua dan guru, untuk selalu sigap, dan siap sedia dalam kondisi apapun untuk selalu hadir membawa kasih sayang dengan sepenuh hati, dalam ikut memberikan solusi atas segala permasalahan yang dialami anak-anak dan para siswa. Dan kelembutan hati akan selalu memancarkan aura positif, sehingga siapapun akan tahu bahwa anda para orang tua dan guru bukanlah orang-orang yang “berbahaya” jika berada di dekat mereka.
3. Menyemai Benih Kasih Sayang.
Setelah para orang tua dan guru melaksanakan kiat-kiat seperti di atas, serta selalu menata hati agar senantiasa selalu lembut, maka langkah berikutnya adalah menyemaikan benih-benih kasih dan sayang dalam bentuk pengaplikasian melalui tingkah laku ketika berinteraksi dengan anak di rumah, serta para siswa di sekolah. Mendidik dengan berlandaskan pada perasaan cinta kasih akan berefek pada semakin meningkatnya rasa kepercayaan anak kepada orang tua, serta para siswa kepada guru terutama kepercayaan masyarakat terhadap sekolah.
Benih-benih kasih sayang yang telah disemai hendaknya dipupuk, agar senantiasa benih-benih kasih sayang itu bertunas subur, sehingga dapat menghasilkan kuntum-kuntum bunga cinta yang siap mengharumkan suasana taman kehidupan para orang tua dan guru. Adapun yang menjadi pemupuk benih-benih kasih sayang itu,dapat diformulasikan dari bahan-bahan,antara lain membangun citra bahwa rumah yang mereka tempati adalah sebaik-baik tempat bernaung di muka bumi ini,serta membangun citra sekolah bahwa inilah sebaik-baik tempat yang mampu mengantar mereka menuju kesuksesan lahir batin. Juga menerapkan kiat-kiat sederhana dalam berinteraksi dengan cara mempermudah prosedur-prosedur berinteraksi. Juga mengistimewakan setiap anak yang ada di sekelilingnya dengan cara memperlakukan mereka seperti orang yang dipentingkan kehadirannya diantara para orang tua dan guru. Juga curahkan perhatian dengan mengapresiasi setiap prestasi yang dicapai oleh anak-anak dan para siswa dengan memberi hadiah. Juga biasakan membantu setiap kesulitan mereka sebatas bantuan tersebut tidak membuat mereka menjadi manja. Juga biasakan mengobral pujian di setiap akhir dalam proses mengerjakan sesuatu. Juga biasakan menanggapi setiap obrolan mereka walaupun sebenarnya obrolan tersebut adalah hal yang remeh dalam ukuran pemikiran orang dewasa. Juga biasakan memberikan sentuhan fisik di tempat yang sekiranya pantas disentuh ketika sedang berkomunikasi. Dan yang tak kalah pentingnya adalah menghadirkan mereka dalam setiap do’a para orang tua dan guru.
Dengan begitu, para orang tua dan guru telah melakukan dua kebaikan sekaligus. Yaitu para guru dan orang tua telah mendo’akan mereka, serta dalam kesempatan itu juga mereka telah memberikan “pendidikan hati” kepada mereka, agar pertalian kasih sayang yang terjalin diantara anak dan orang tua serta diantara siswa dan guru, senantisa mendapat ridho dan limpahan rahmat dari Allah Subhanahu Wata’ala.
4. Istiqamah.
Dalam langkah terakhir ini, para orang tua dan guru seyogyanya selalu menjalankan apa-apa yang sudah dibangun dari awal itu dengan konsistensi yang tinggi, sehingga apa-apa yang sudah dibangun dengan langkah-langkah yang penuh dengan perjuangan tersebut tidak mengalami kemunduran dan akhirnya harus musnah ditelan masa. Dengan kontinyu semangatnya harus selalu diperbaharui agar pasang surutnya keadaan tidak berdampak buruk pada hasil perjuangannya.
Untuk selalu istiqamah,para orang tua dan guru harus selalu meneguhkan niat suci untuk selalu mengabdi kepada Allah, dengan selalu menunaikan amanah yang berupa kepercayaan untuk ikut serta menjaga sebuah generasi, agar senantiasa generasi tersebut menjadi Pemimpin di muka bumi yang dapat membawa kemaslahatan kepada lingkungan,dengan disertai akhlakul karimah,yang dilandasi oleh keteguhan iman dan takwa. Sehingga nantinya dapat menjadikan lingkungan yang mereka tempati sebagai Baldatun Thoyyibatun Warobbun Ghafur.
PENUTUP
Ada banyak istilah yang dapat digunakan untuk membahasakan sifat dan karakter orang tua dan guru yang ideal, diantaranya yaitu lembut, tangguh, dan brilian. Kelembutan adalah cerminan dari cinta dan kasih sayang. Ketangguhan adalah cerminan dari kesungguhan tekad yang didasari oleh keteguhan iman dan takwa. Sedangkan kebrilianan adalah cerminan dari kretivitas, profesionalisme, dan progresifitas.
Apabila ketiganya digabung dengan kata “tetap dan selalu”, maka kesemuanya akan menggambarkan sifat Istiqamah, yang akan melahirkan harmoni dan totalitas yang menakjubkan. Sehingga dengan begitu akan dengan sendirinya mengantarkan para orang tua dan guru ke puncak prestasi dalam mendidik. Anak-anak dan para siswa dengan suka rela dan penuh rasa percaya akan menjadi sosok yang patuh dan penurut, karena mereka telah banyak menyerap spirit yang telah ditransfer oleh para orang tua dan guru ke dalam hati mereka. Karena pendidikan berbasis spiritual adalah satu bentuk pendidikan yang ditransformasikan dari hati ke hati. Dengan melaksanakan pendidikan berbasis spiritual tersebut nantinya akan menjadikan para orang tua dan guru sebagai sosok yang selalu dinantikan kehadirannya,dan selalu dirindukan nasehat-nasehatnya.
KESIMPULAN
Pada bagian akhir penutup penulisan artikel ini, penyusun merasa perlu untuk menyimpulkan bahwa pendidikan berbasis spritual ini sangatlah penting untuk diterapkan dalam segala aspek pendidikan baik pendidikan di rumah,di sekolah ataupun ditengah-tengah masyarakat pada umumnya. Tetapi jangan lupa, sebelum menerapkan pendidikan berbasis spiritual haruslah dipersiapkan, agar senantiasa hatinya selalu penuh dengan semangat untuk melakukanyang terbaik,agar nantinya tidak mengalami kekeringan spiritual. Karena pendidikan berbasis spiritual ini merupakan salah satu bentuk pendidikan yang ditransformasikan dari hati ke hati, sehingga tidak akan pernah terdengar lagi komentar “Ibuku gak oke banget” dari anak tentang orang tuanya, serta teriakan “Merdeka...” sebagai apresiasi kebebasan dari siswa yang tahu bahwa guru pada hari itu tidak hadir di sekolah.
Share:

Based Education Spiritual Influence on Children's Behavior at Home, as Well as Students in School

PRELIMINARY
There are concerns that burst, as witnessed fighting between students occur everywhere, and there is anxiety that arises when looking at the students shouted gleefully when he learned that his teacher did not come on this day.
Why worry? The first reality show that students today are so close to violence, which obviously is contrary to the world they were supposed to wallow with the nuances and scientific education. Supposedly the world born from "Rahim compassion" is brought up with the instincts of compassion, as instinctive love of a mother in caring for and educating their children.
Why upset? The second reality will be the ruination implies affection in the interaction between the teachers with their students. Estrangement was much thicker when teachers have more punitive than a smile, more like rebuke than being empathetic. So that the meeting between the two are always in a state of forced, which eventually gave birth to a sense of compulsion pressure to undergo the meeting.
A. Background
Given the findings as mentioned above, it is considered very essential to raise these matters in writing our article, because this time it as mentioned above have often occurs around us, especially among the men and women educators who every day often encountered such what is mentioned above though on a small scale. All the great things that it must have begun by little things are trivial, or trivialized.
Violent behavior of the student, often inspired by the spectacle tersuguh in front of them. Like the films of violence dominated by-delinquent and delinquent children who lack parental affection.
The gap relationships between teachers and students, often triggered by the desire of teachers to always be obeyed and complied with all said and ordered, without trying to understand the factors that can affect the lives of the students to moved into an obedient and docile child.
B. Problem Formulation
On the basis of the background of the above problems, we try to formulate how big of a result that would occur if both of these issues are left to drag on, or even sought to justify the omission of the case. Lately often an act of mutual accusations and throwing responsibility on the case as mentioned above between the role of parents in the home and the role of teachers in schools.
If these problems persist above education among the world's environment, it is certain that it will tarnish the sanctity of educational institutions in the country, because they are not able to provide awareness-awareness of how important a sense of affection and noble character among others. And a loss of public trust in educational institutions, especially to the men and women who are dedicated educators in it since from early childhood to university, because it is the only institution that gave birth to scholars only punish him in a way that is not wise at all. With this formula, then we will find a question "What is the influence of spiritual-based education on children's behavior at home, as well as students in the school?".
C. The purpose of writing
In writing artike this, we aim to share a bit of the solution, as well as a vehicle for introspection for us in carrying out activities as educators at the Institute of Education of each, so that we continue to be involved in actions that are always looking for reasons justify all our flaws in carrying out the duties and responsibilities of educating our students each, so that later become someone powerful, optimal, accompanied manners, and based on the firmness of faith and piety.
DISCUSSION
It's ironic, if a "sacred" as the school which should show an image of compassion and tenderness, now no longer describe it as a place to print the scholars determine the future of the nation, because it tarnished by the actions of a handful of students who love violence, both among students in the same school, or with students at other schools, although still very much at all schools that are still very beautiful to the eye in conduciveness aspects of the school environment and the behavior of their students.
In this regard, the role of parents and teachers alike magnitude in determining the mental maturity and their attitude in favor, so that students are spared from having nature ornery, stubborn, and violent. In this case the parents and teachers should not be throwing the responsibility, because whenever and wherever they keep the status of children for parents, and students for teachers.
In this case, most parents and teachers have been trapped in the assumption that the responsibility of parents becoming separated when the child is already in school, and the teachers that they are separated from their responsibilities when the students had returned to their homes, and had release the identity of her school uniform. So if there is aberrant behavior of these children so that often we encounter are the two sides are even recriminations, and throwing responsibility than to sit together to find a solution to get out of this problem, and make anticipatory action so that such deviations do not occur again either on the same child or the other children.
Actually, all of that is triggered by the loss of control of parents and teachers to give lessons and education. They put aside the spiritual-based education (Spiritual Teaching), so anything that has been taught well by the family at home and teachers at school are less seep into the psyche of children. Therefore, through the writing of this article, we want to try to share tips that  will lead the reader to become parents and teachers who loved, admired, coveted his presence, and imitated by children at home, and the students in the school. Lately has been equally we know that the role of parents in the home is no more only as a figure of the provider of food and shelter in the house along with some supporting facilities, so no teachers in schools whose role is no more than a mere transmitter of the subject matter and as a writer in the book value of report cards of students, because many cases we have encountered a student who excel in the academic field, while in the mental aspect and behavior she Zero.
In addressing the case of delinquency, there are some tips that should be prepared and considered very essential to be done by the parents and teachers in anticipation of the emergence of cases as mentioned above, or at prevent the spread of naughtiness that the children the other, a few of these tips, among others, are:
1. Exemplary Honor.
Exemplary noble very effective in instilling manners of good to others, because the person who becomes the object did not feel patronized, but feel suggestible to virtuous character well too when seeing parents and teachers as well as those around him behave with manners good. To provide exemplary and noble cause, parents and teachers need their  preparation themselves to always be aware of emotions from becoming a terrible figure for children and students, has always been a figure of forgiving-but not a weak figure who always gives impunity to any  acts to children and students, always able to suppress the development of "animal instinct" for children and students, not authoritarian and less democratic-whichever is too democratic or authoritarian attitudes can be fatal if it is applied in the long term, always put your trust.
Modeling this noble will give birth to words and actions filled with affection, as well as much of the behavior to punish and judge, so that those who were the objects voluntarily approached, obedient and according to parents and teachers, because children and students the feel "safe" to be around them, and always longing for their advice.
2. Soften Hearts.
Meekness is indeed very important, so many people strive to achieve them, pursue them with riyadah Riyadah-backs that are believed to bring tenderness to the perpetrators either prayer-prayer or to follow the teachings  management, or some products " softener heart "other. As a first step that parents and teachers need to have the determination to proclaim in his heart to always be the best for children and students. Proclaimed that your parents and teachers love them, proclaimed that your parents and teachers present for them, proclaimed that your parents and teachers are the best companions for them, proclaimed that your parents and teachers are true friends always there for them.
With the "declaration of love", then it will become enhancer supplements power for parents and teachers, to always alert and ready under any circumstances to always present to bring affection wholeheartedly, to help provide a solution to all problems experienced by children and students. And gentleness will always radiate positive aura, so that everyone will know that your parents and teachers are not people who are "dangerous" to be around them.
3. Sowing Seeds of Compassion.
After parents and teachers implement the tips as above, and always arrange careful to always always soft, then the next step is to sow the seed of love and affection in the form of application through behavior when interacting with children at home, and the students in school. Educationally based on the feeling of love will have an effect on increasing trust children to parents, and students to teachers, especially public confidence in the school.
The seeds of affection that have been sowing should be fostered, in order to continue the seeds that sprout lush affection, so it can produce flower blossoms scent the atmosphere of love that is ready to park the lives of parents and teachers. As for the fertilizer seeds of compassion, may be formulated from ingredients, such as building the image that the home they are the best to shelter in the face of this earth, and to build the school's image that this is the best of a capable led them to success both inner and outer. Also applying simple tips in interaction by simplifying procedures interact. Also privileging any child around him by treating them like people overlooked his presence among parents and teachers. Also devote attention to appreciate every achievement by children and students by giving gifts. Also make it a habit to help with any difficulties they are limited to such assistance does not make them to be spoiled. Also familiarize sell out compliments at each end in the process of doing something. Also make it a habit to respond to every chat conversation even though they are trivial in size adult thinking. Also familiarize provide physical touch in places that are likely deserve touched while it is communicating. And last but not least is presenting them in every prayer of parents and teachers.
By doing so, parents and teachers have to do two at the same kindness. Namely teachers and parents have mendo'akan them, and on that occasion they also gave "careful study" to them, so that ties of affection that exists among children and parents as well as between students and teachers, senantisa got the blessing and abundance of grace Allah glory to Him.
4. Istiqamah.
In this final step, parents and teachers should always run anything that has been built from scratch with high consistency, so that anything that has been built with steps filled with struggle is not in decline and eventually must be destroyed gulped. With the continuous spirit should always be updated to the ebb and flow situation no negative impact on the result of the struggle.
To always istiqamah, parents and teachers should always confirm sacred intention to always serve God, to always fulfill the mandate of trust to participate as well as keep a generation, so that always that generation became leader on earth who can bring benefit to the environment, accompanied akhlakul karimah, which is based on the firmness of faith and piety. So that can make the environment they occupy as baldatun Thoyyibatun Warobbun Ghafur.
COVER
There are many terms that can be used to express the nature and character of parents and teachers are ideal, among which soft, resilient, and brilliant. Tenderness is a reflection of the love and affection. Toughness is a reflection of the seriousness of the determination based on the firmness of faith and piety. While brilliance is a reflection of kretivitas, professionalism, and progression.
If all three are combined with the word "fixed and always", then all of them will describe the nature Istiqamah, which will give birth to an amazing harmony and totality. So with that will by itself deliver the parents and teachers to the pinnacle of achievement in educating. Children and students with voluntary and trusting will be obedient and submissive figure, because they have absorbed so much spirit that has been transferred by the parents and teachers to their hearts. Because the spiritual-based education is a form of education that is transformed from heart to heart. By implementing a spiritual-based education that will make parents and teachers as someone who always awaited his presence, and always be missed counsels.
CONCLUSION
At the end of the closing of writing this article, the author felt the need to conclude that the spiritual-based education is very important to be applied in all aspects of education good education at home, at school or in the midst of society in general. But do not forget, before applying the spiritual-based education should be forthcoming, in order to continue his heart was always filled with enthusiasm for the best , so will not experience spiritual dryness. Because of this spiritual-based education is a form of education that is transformed from the heart, so it will never be heard from again comment "My mother was not okay buildup" of children on their parents, as well as shouts of "Freedom ..." is an appreciation of freedom of students knew that the teacher was not present on that day in school.
Share:

Jumat, 11 Maret 2016

mengenal Islam dalam tatanan kehidupan

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga shalawat dan salam tercurah untuk imam para rasul, nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para shahabatnya .

Islam adalah syari’at Allah terakhir yang diturunkan-Nya kepada penutup para nabi dan rasul-Nya, Muhammad bin Abdullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia merupakan satu-satunya agama yang benar. Allah tidak menerima agama dari siapapun selainnya. Dia telah menjadikannya sebagai agama yang mudah, tidak ada kesulitan dan kesusahan di dalamnya. Allah tidak mewajibkan dan tidak pula membebankan kepada para pemeluknya apa-apa yang mereka tidak sanggup melakukannya. Islam adalah agama yang dasarnya tauhid, syi’arnya kejujuran, porosnya keadilan, tiangnya kebenaran, ruhnya kasih sayang. Ia merupakan agama agung yang mengarahkan manusia kepada seluruh hal yang bermanfa’at, serta melarang dari segala hal yang membahayakan bagi agama dan kehidupan mereka di dunia.

Dengannya Allah meluruskan ’aqidah dan akhlak, serta memperbaiki kehidupan dunia dan akhirat. Dengannya pula Allah menyatukan hati yang bercerai-berai, dan hawa nafsu yang berpecah-belah, dengan membebaskannya dari kegelapan kebatilan, dan mengarahkan serta menunjukinya kepada kebenaran dan jalan yang lurus. Islam adalah agama yang lurus, yang sangat bijaksana dan sempurna dalam segala berita dan hukum-hukumnya. Ia tidak memberitakan kecuali dengan jujur dan benar, dan tidak menghukum kecuali dengan yang baik dan adil, yaitu: ’aqidah yang benar, amalan yang tepat, akhlak yang utama dan etika yang mulia.

Syari’ah Islam bertujuan untuk mewujudkan hal-hal berikut:

1. Memperkenalkan manusia dengan Tuhan dan Pencipta mereka, melalui nama-nama-Nya yang mulia dan sifat-sifat-Nya yang agung, serta perbuatan-perbuatan-Nya yang sempurna.

2. Menyeru manusia untuk beribadah hanya kepada Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya; dengan menjalankan semua perintah dan menjauhi semua larangan-Nya, yang merupakan kemaslahatan bagi mereka di dunia dan akhirat.

3. Mengingatkan mereka akan keadaan dan tempat kembali mereka setelah mati, dan apa yang akan mereka hadapi di dalam kubur, serta ketika dibangkitkan dan dihisab. Kemudian tempat kembali mereka surga atau neraka.

Dan hal-hal yang diseru oleh Islam dapat kita simpulkan dalam penjelasan berikut:



Pertama

Aqidah


Yaitu: Meyakini Rukun-Rukun (Pilar-Pilar) Iman yang enam:

1- Beriman kepada Allah, diwujudkan dengan hal-hal berikut:

a. Satu: Beriman kepada rububiyyah Allah Ta’ala, maksudnya: Allah adalah Tuhan, Pencipta, Pemilik dan Pengatur segala urusan.

b. Beriman kepada uluhiyyah Allah Ta’ala, maksudnya: Allah Ta’ala sajalah Tuhan yang berhak disembah, dan semua sesembahan selain-Nya adalah batil.

c. Beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat-Nya, maksudnya: bahwasanya Allah Ta’ala memiliki nama-nama yang mulia, dan sifat-sifat yang sempurna serta agung sesuai dengan yang ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam .

2- Beriman kepada para Malaikat:

Malaikat adalah hamba-hamba yang mulia. Mereka diciptakan oleh Allah untuk beribadah kepada-Nya, serta tunduk dan patuh menta’ati-Nya. Allah telah membebankan kepada mereka berbagai tugas. Diantara mereka adalah Jibril; ditugaskan menurunkan wahyu dari sisi Allah kepada nabi-nabi dan rasul-rasul yang dikehendaki-Nya.

Mikail yang ditugaskan untuk mengurus hujan dan tumbuh-tumbuhan.

Israfil yang bertugas meniupkan sangsakala di hari terjadinya kiamat.

Dan Malaikat Maut, bertugas mencabut nyawa ketika ajal tiba.

3- Beriman kepada Kitab-kitab:

Allah -Yang Maha Agung dan Mulia- telah menurunkan kepada para rasul-Nya kitab-kitab, mengandung petunjuk dan kebaikan. Yang kita ketahui di antara kitab-kitab itu adalah:

a. Taurat, diturunkan Allah kepada Nabi Musa alaihis salam, ia merupakan kitab Bani Israil yang paling agung.

b. Injil, diturunkan Allah kepada Nabi Isa alaihis salam.

c. Zabur, diturunkan Allah kepada Daud alaihis salam.

d. Shuhuf Nabi Ibrahim dan Nabi Musa ’alaihimas salam.

e. Al Qur’an yang agung, diturunkan Allah Ta’ala kepada nabi-Nya Muhammad, penutup para nabi. Dengannya Allah telah menasakh (menghapus) semua kitab sebelumnya. Dan Allah telah menjamin untuk memelihara dan menjaganya; karena ia akan tetap menjadi hujjah atas semua makhluk, sampai hari kiamat.

4- Beriman kepada para rasul:

Allah telah mengutus para rasul kepada makhluk-Nya. Rasul pertama adalah Nuh dan yang terakhir adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan semua rasul itu adalah manusia biasa, tidak memiliki sedikitpun sifat-sifat ketuhanan. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang telah dimuliakan dengan kerasulan. Dan Allah telah mengakhiri semua syari’at dengan syari’at Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau diutus untuk seluruh manusia. Maka tidak ada lagi nabi sesudahnya.

5- Beriman kepada hari akhirat:

Yaitu hari kiamat, tidak ada hari lagi setelahnya, Ketika Allah membangkitkan manusia dalam keadaan hidup untuk kekal di tempat yang penuh kenikmatan atau di tempat siksaan yang amat pedih.

Beriman kepada Hari Akhir meliputi beriman kepada semua yang akan terjadi setelah mati, yaitu: ujian kubur, kenikmatan dan siksaannya, serta apa yang akan terjadi setelah itu, seperti kebangkitan dan hisab, kemudian surga atau neraka.

6- Beriman kepada Takdir:

Takdir artinya: beriman bahwasanya Allah telah mentaqdirkan semua yang ada dan menciptakan seluruh makhluk sesuai dengan ilmu-Nya yang terdahulu, dan menurut kebijaksanaan-Nya. Maka segala sesuatu telah diketahui oleh Allah, serta telah pula tertulis disisi-Nya, dan Dialah yang telah menghendaki dan menciptakannya.



Kedua

Rukun-rukun (Pilar-Pilar) Islam


Islam dibangun di atas lima rukun. Seseorang tidak akan menjadi muslim yang sebenarnya hingga dia mengimani dan melaksanakannya, yaitu:

Rukun pertama: Syahadat (bersaksi) bahwa, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan bahwasanya Muhammad itu adalah Rasulullah. Syahadat ini merupakan kunci Islam dan pondasi bangunannya.

Makna syahadat la ilaha illallah ialah: tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah saja, Dialah ilah yang hak, sedangkan ilah selainnya adalah batil. Dan ilah itu artinya: sesuatu yang disembah.

Dan makna syahadat: bahwasanya Muhammad itu adalah rasulullah ialah: membenarkan semua apa yang diberitakannya, dan menta’ati semua perintahnya serta menjauhi semua yang dilarang dan dicegahnya.

Rukun kedua: Shalat:

Yaitu lima shalat setiap hari, Allah syari’atkan sebagai hubungan antara seorang muslim dengan Tuhannya. Di dalamnya dia bermunajat dan berdo’a kepada-Nya, di samping agar menjadi pencegah bagi muslim dari perbuatan keji dan munkar.

Dan Allah telah menyiapkan bagi yang menunaikannya kebaikan dalam agama dan kemantapan iman serta ganjaran, baik cepat maupun lambat. Maka dengan demikian seorang hamba akan mendapatkan ketenangan jiwa dan kenyamanan raga yang akan membuatnya bahagia di dunia dan akhirat.

Rukun ketiga: Zakat

Yaitu: sedekah yang dibayar oleh orang yang memiliki harta sampai nisab (kadar tertentu) setiap tahun, kepada yang berhak menerimanya seperti orang-orang fakir dan lainnya, di antara yang berhak menerima zakat.

Dan zakat itu tidak diwajibkan atas orang fakir yang tidak memiliki nisab, tapi hanya diwajibkan atas orang-orang kaya untuk menyempurnakan agama dan islam mereka, meningkatkan kondisi dan akhlak mereka, menolak segala bala dari mereka dan harta mereka, mensucikan mereka dari dosa, di samping sebagai bantuan bagi orang-orang yang membutuhkan dan fakir di antara mereka, serta untuk memenuhi kebutuhan keseharian mereka, sementara zakat hanyalah merupakan bagian kecil sekali dari jumlah harta dan rizki yang diberikan Allah kepada mereka.


Rukun keempat: Puasa

Yaitu selama satu bulan saja setiap tahun, pada bulan Ramadhan yang mulia, yakni bulan kesembilan dari bulan-bulan Hijriah. Kaum muslimin secara keseluruhan serempak meninggalkan kebutuhan-kebutuhan pokok mereka; makan, minum dan jima’, di siang hari; mulai dari terbit fajar sampai matahari terbenam.

Dan semua itu akan diganti oleh Allah bagi mereka -berkat karunia dan kemurahannya- dengan penyempurnaan agama dan iman mereka, serta peningkatan kesempurnaan diri, dan banyak lagi ganjaran dan kebaikan lainnya; baik, di dunia maupun di akhirat yang telah dijanjikan Allah bagi orang-orang yang berpuasa.

Rukun kelima: Haji

Yaitu menuju Masjidil haram untuk melakukan ibadah tertentu. Allah mewajibkannya atas orang yang mampu sekali seumur hidup. Pada waktu itu kaum muslimin dari segala penjuru berkumpul di tempat yang paling mulia di muka bumi ini, menyembah Tuhan Yang Satu, memakai pakaian yang sama, tidak ada perbedaan antara pemimpin dan yang dipimpin, antara si kaya dan si fakir dan antara yang berkulit putih dan berkulit hitam. Mereka semua melaksanakan bentuk-bentuk ibadah tertentu, yang terpenting di antaranya adalah: Wukuf di padang Arafah, thawaf di Ka’bah yang mulia, kiblatnya kaum muslimin, dan sa’i antara bukit Shafa dan Marwah.

Dan di dalam pelaksanan haji itu terdapat manfaat-manfaat yang tidak terhingga banyaknya, baik dari segi agama maupun dunia.

Ketiga

Selanjutnya, Islam juga telah mengatur kehidupan pemeluknya secara individu dan kelompok, dengan konsep yang menjamin kebahagiaan hidup mereka dunia dan akhirat. Islam membolehkan bahkan mendorong mereka untuk nikah, dan sebaliknya mengharamkan atau melarang perbuatan zina, sodomi dan segala bentuk prilaku kotor lainnya. Ia mewajibkan menjalin hubungan antar kerabat, mengasihi orang-orang fakir dan miskin serta menyantuni mereka, sebagaimana Islam juga mewajibkan dan mendorong untuk berakhlak mulia, serta mengharamkan dan melarang segala bentuk moral yang hina.

Islam membolehkan bagi mereka usaha yang baik melalui perdagangan, persewaan dan semacamnya, serta mengharamkan praktek riba, segala bentuk perdagangan yang terlarang dan semua yang mengandung unsur penipuan atau pengelabuan.

Sebagaimana Islam juga memperhatikan perbedaan manusia dalam konsisten terhadap ajarannya dan memelihara hak-hak orang lain, untuk itu ditetapkan sanksi-sanksi yang mencegah untuk terjadinya berbagai pelanggaran terhadap hak-hak Allah seperti: murtad, berzina, meminum khamar dan semacamnya, begitu juga ditetapkan sanksi-sanksi yang mencegah akan terjadinya pelanggaran terhadap hak-hak sesama manusia, seperti membunuh, mencuri, menuduh orang lain berbuat zina, atau menganiaya dengan memukul atau menyakiti. Sanksi-sanksi tersebut sangat sesuai dengan bentuk kejahatannya tanpa berlebih-lebihan. Mengenal Islam dalam tatanan kehidupan

Sebagaimana Islam juga telah mengatur dan memberi batasan terhadap hubungan antara rakyat dan penguasa, dengan mewajibkan rakyat untuk ta’at selama bukan dalam maksiat kepada Allah, dan mengharamkan kepada mereka memberontak atau menentang, karena bisa menimbulkan kerusakan-kerusakan secara umum atau khusus.

Sebagai penutup, dapat kita katakan bahwa Islam telah merangkum ajaran yang membangun dan menciptakan hubungan yang benar dan amalan yang tepat antara hamba dan Tuhannya dan antara seseorang dengan masyarakatnya dalam segala urusan. Maka tak satupun kebaikan, baik itu dari segi akhlak maupun mu’amalat, melainkan Islam telah membimbing dan mendorong ummat untuk melaksanakannya, dan sebaliknya tak satupun keburukan dalam hal akhlak ataupun mu’amalat melainkan Islam telah mencegah dan melarang ummat untuk melakukannya. Ini semua membuktikan kesempurnaan dan keindahan agama ini, dalam seluruh sisi dan bagiannya.

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Share:

Makalah Sosio Politik dan perkembangan Pendidikan Tukri Usmani

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Umat Islam mengalami puncak keemasan pada masa pemerintahan Abbasiyah. Pada masa itu bermunculan para pemikir Islam kenamaan yang sampai sekarang pemkiriannya masih diperbincangkan dan dijadikan dasar pijakan bagi pemikiran di masa mendatang, baik dalam bidang keagamaan maupun umum. Kemajuan Islam ini tercipta berkat usaha dari berbagai komponen masyarakat, baik ilmuwan, birokrat, agamawan, militer, dan ekonomi maupun masyarakat umum.
Sejarah mencatat, bahwa setelah terjadinya penyerangan tentang Mongol yang dipimpin Hulagu Khan pada tahun 1258, kekuasaan Islam yang berpusat di Baghdad mengalami kehancuran yang amat signifikan. Kekuatan politik Islam mengalami kemunduran secara drastis. Wilayah kekuasaannya tercabik-cabik dalam beberapa kerajaan kecil yang satu sama lain bahkan saling memerangi. Beberapa peninggalan budaya dan peradaban Islam banyak yang hancur akibat serangan bangsa Mongol. Keadaan ini diperparah oleh serangan dari Timur Lenk yang datang menghancurkan pusat-pusat kekuasaan Islam yang lain.
Keadaan politik umat Islam secara keseluruhan baru mengalami kemajuan kembali setelah muncul dan berkembangnya tiga kerajaan besar, yaitu Utsmani di Tukri, Mughal di India, dan Safawi di Persia. Kerajaan utsmani di samping merupakan kerajaan Islam pertama yang berdiri juga yang terbesar dan paling lama bertahan dibanding dua kerajaan lainnya.


B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini, penulis dapat merumuskan masalah diantaranya:
1. Bagaiman konadisi sosio politik kerajaan Turki Ustmani?
2. Bagaimana perkembangan pendidikan pada masa kerajaan Turki Ustmani?
3. Bagaimana bentuk reformasi pendidikan yang dilakukan pada masa kerajaan Turki Ustmani?

C. Tujuan
Tujuan penulisan ini untuk:
1. Mengetahui kondisi sosio politik kerajaan Turki Ustmani.
2. Mengetahui perkembangan pendidikan pada masa kerajaan Turki Ustmani.
3. Mengetahui bentuk reformasi pendidikan yang dilakukan pada masa kerajaan Turki Ustmani.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Sekilas Tentang Kerajaan Turki Utsmani
Secara historis, bangsa Turki Utsmani berasal dari keluarga Qabey, salah satu kabilah al-Ghaz al-Turky, yang mendiami daerah Turkistan. Mereka masuk Islam sekitar abad kesembilan atau kesepuluh di bawah pimpinan Ortoghol, ketika mereka menetap di Asia Tengah. Akibat ada tekanan tentara Mongol yang terus merengsek dan memburu suku tersebut, akhirnya mereka pindah ke arah barat hingga mereka bergabung dengan saudara seketurunan, yakni orang Turki Saljuq, di dataran tinggi Asia kecil.
Di sana, mereka mengabdikan diri kepada Sultan Alaudin, Sultan Saljuk yang kebetulan sedang berperang melawan Bizantium. Berkat bantuan mereka, Sultan Alaudin mendapat kemenangan. Atas jasa baik itu, Alaudin menghadiahkan sebidang tanah di Asia kecil yang berbatasan dengan Bizantium. Sejak itu mereka terus membina wilayah barunya dan memilih kota Syukud sebagai ibu kota. Ortoghul meninggal dunia pada tahun 1289 M. Kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, Usman. Putra Ortughol inilah yang dianggap sebagai pendiri kerajaan Utsmani.

B. Kondisi Sosio Politik Kerajaan Turki Utsmani
Pada tahun 1300 M, bangsa Mongol menyerang kerajaan Saljuk dan Sultan Alaudin terbunuh. Kerajaan Saljuk ini kemudian terpecah-pecah dalam beberapa kerajaan kecil. Usman pun menyatakan merdeka dan berkuasa penuh atas daerah yang didudukinya. Sejak itulah Utsmani
dinyatakan berdiri, dengan pimpinan pertamanya Usman, yang selanjutnya sering disebut sebagai Usman I (1300-1326).
Kerajaan Utsmani sangat gencar melakukan ekspansi guna meluaskan wilayah kekuasaannya, sehingga pada masa Orkhan sebagian dari wilayah Eropa telah ditundukkan. Kerajaan ini telah mencapai gemilang bermula sejak awal abad ke-16 sewaktu Salim mengalahkan kekuatan Safawi dan meluaskan wilayah ke selatan sampai Mesir dan Hijaz. Kawasan ini memiliki arti penting dalam kehidupan keagamaan umat Islam secara umum.
Wilayah kekuasaan Utsmani sejak abad ke-16 sangatlah luas, membentang dari Budepest di bagian utara sampai ke Yaman, di bagian selatan dan dari Basrah di bagian timur hingga ke Aljazair di bagian barat itu, dibagi ke dalam beberapa provinsi yang masing-masing dipimpin oleh seorang gubernur atau pasha.
Adapun nama-nama kekhalifahan Turki Utsmani sebagai berikut:
Orkhan 1326-1359 M
Murad I 1359-1389 M
Bayazid I 1389-1403 M
Sultan Muhammad I 1403-1421 M
Murad II 1421-1451 M
Muhammad al-Fatih 1451-1484 M
Sultan Salim I 1512-1520 M
Sultan Sulaiman al-Qanuni 1520-1566 M
Secara umum, para khalifah Utsmani sebagaimana tersebut di atas, banyak memanfaatkan masa kekuasaannya untuk memperluas wilayah kekuasaan, membangun militer dan pemerintahan yang kuat. Keadaan ini sebuah program utama, mengingat secara geografis dan politis, kekhalifahan ini berhadapan dengan kekuasaan Eropa yang setiap saat dapat menghancurkan kekhalifahan Utsmani.
Kerajaan Turki Utsmani menikmati masa keemasan, yakni pada masa kepemimpinan Sultan Sulaiman, The great, the magnificent, al-qanuniy. Mencapai peradaban tinggi karena kepandaian masyarakatnya yang adaptif terhadap kemajuan di sekitarnya. Bizantium, Persia dan Arab adalah wilayah yang kaya akan kebudayaan dan peradaban tinggi. Dari sanalah Utsmani mengambil alih kebudayaan untuk dipakai sebagai landasan kemajuan, dengan mengadakan penelitian dan mengembangkan ilmu pengetahuan, ekonomi, social kemasyarakatan, hukum dan huruf dari budaya Arab melalui ajaran Islam yang mereka peluk.
Masyarakat kerajaan Turki Utsmani juga mengalami kemajuan dalam bidang agama. Kehidupan agama merupakan bagian terpenting dalam sistem sosial dan politik daulah ini. Di samping itu, Turki Utsmani juga mengalami kemajuan di bidang politik dan kemiliteran. Kekuatan militer Utsmani yang sangat tangguh sangat menentukan stabilitas kekuasaan. Kelompok militer yang disebut Jenisseri atau Inkisyariah dapat mengubah Turki Utsmani menjadi mesin perang yang paling kuat dan memberikan dorongan yang amat besar dalam menaklukkan negeri-negeri non muslim.

C. Perkembangan Pendidikan Pada Masa Turki Utsmani
Pendidikan sebagai dimensi perkembangan suatu bangsa, pada masa Turki Utsmani cukup menarik untuk dianalisis keberadaanya. Sebab dibalik kejayaan ekspansinya telah terjadi kelesuan intelektual yang kuat. Meningat sebagai bangsa yang berdarah militer, Turki Utsmani lebih banyak menfokuskan kegiatan mereka dalam bidang kemiliteran, sementara dalam bidang ilmu pengetahuan, mereka kelihatan tidak begitu menonjol, kecuali dalam pengembangan arsitektur Islam, berupa bangunan Masjid yang indah seperti Masjid al-Muhammadi atau Masjid jami’ Sultan Muhammad al-Fatih, Masjid Agung Sulaiman dan Masjid Ali Ayyub al-Anshari. Karena itulah, di dalam khazanahintelektual Islam, kita tidak menemukan ilmuwan terkemuka dari Turki Utsmani.
Pada masa Sultan Orkhan (w.1359 M), Sultan-sultan Utsmani banyak mendirikan Masjid-masjid dan Madrasah-madrasah, terutama di Istambul dan Mesir. Pada masa itu banyak juga perpustakaan yang berisi Kitab-kitab yang tidak sedikit jumlahnya. Tiap-tiap orang bebas membaca dan mempelajari isi Kitab-kitab itu. Mereka tidak terpengaruh oleh pergerakan ilmiah di Eropa dan tidak pula mau mengikuti jejak zaman kemajuan dunia Islam pada masa Harun Al-Rasyid dan masa Al-Makmun, yaitu masa keemasan dalam sejarah Islam.
Sistem pengajaran yang dikembangkan pada Turki Utsmani adalah menghafal matan-matan meskipun murid tidak mengerti maksudnya, seperti matan al-Jurumiah, dll. Murid-murid setelah menghafal matan-matan itu barulah mempelajari syarahnya, kadang-kadang serta khasiyahnya. Karenanya pelajaran itu bertambah berat dan bertambah sulit untuk dihafalkannya.
Meskipun pada masa Turki Utsmani pendidikan Islam kurang mendapat perhatian yang serius dan juga terhambat kemajuannya, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa pada tiap-tiap masa pasti akan memunculkan tokoh-tokoh atau ulama kenamaan. Walaupun jumlah ulama yang muncul tidak sebanyak pada masa Abbasiyah yang merupakan puncak keemasan Islam.

D. Pencapaian Pendidikan Pada masa Turki Utsmani
a) Bidang Keagamaan
Dalam tradisi masyarakat Turki, agama mempunyai peranan besar dalam lapangan sosial dan politik. Masyarakat digolongkan berdasarkan agama, dan kerajaan sendiri sangat terikat dengan syariat sehingga fatwa ulama menjadi hukum yang berlaku. Sedangkan Mufti, sebagai pejabat urusan agama tertinggi, berwenang memberi fatwa resmi terhadap problema keagamaan yang dihadapi masyarakat.
Seiring dengan kuatnya pengaruh agama sebagaimana tersebut di atas, pada masyarakat Turki, tarekat juga ikut berkembang, yaitu tarekat Bektasyi dan tarekat Maulawi.
b) Bidang kebudayaan
Turki Utsmani merupakan perpaduan dari berbagai macam daerah, seperti Persia, Byzantium, dan Arab. Ketiga bangsa tersebut yang pada akhirnya banyak mewarnai perjalanan kerajaan Turki Utsmani, baik dalam hal transformasi ilmu pengetahuan maupun perpaduan budaya yang lain.
c) Bidang pendidikan
Dapat dikatakan tidak mengalami perkembangan yang berarti. Para penguasa lebih cenderung memiliki satu mazhab keagamaan, kemudian mempraktikkannya, dan menekan mazhab yang lain agar tidak menyainginya.

E. Reformasi Pendidikan Pada masa Turki Utsmani
Di dalam imperium Utsmani akhir abad ke-19, dan dalam pembentukan negara Turki modern, pertimbangan utamanya adalah kontinuitas bentuk kesejarahan institusional dan kultural. Ketika kekuatan Eropa berusaha memaksakan pengaruhnya, pengaruh mereka terhadap evolusi internal periode akhir Utsmani dan periode awal masyarakat Turki modern dimediasi oleh elite Utsmani dan elite Turki. Berbeda dengan beberapa imperium muslim lainnya, Utsmani dapat mempertahankan pemerintahannya sehingga mampu menyusun program modernisasi dan reformasinya sendiri.
1. Salim III (1789-1807)
Pada masa pemerintahan Salim III memberlakukan program reformasi yang komprehensif, yang disebut Nizami Jedid atau organisasi baru. Program ini menghendaki reformasi pasukan militer modern, meningkatkan sektor pajak, dan pendirian sekolah teknik untuk mendidik kader-kader bagi rezim baru.
2. Mahmud II (1807-1839)
Pada masa pemerintahan Mahmud II program reformasi dibangkitkan kembali. Meskipun program kemiliteran, administrasi, dan sejumlah proyek pendidikan Mahmud II bersandar pada program reformasi Salim III, namun langkah baru untuk meningkatkan kecakapan militer, merasionalisir administrasi, pengsampingan sejumlah provinsi, meningkatkan penghasilan negara, mendirikan sekolah-sekolah yang berorientasi terhadap barat dan menerapkan konsep sentralisasi negara yang lebih radikal, dijalankan oleh sebuah kerajaan absolut.
Usaha pembaharuan pendidikan Islam yang dilaksanakan oleh Sultan Mahmud II ialah perubahan dalam bidang pendidikan. Sebagaimana di dunia Islam lain di zaman itu, madrasah merupakan satu-satunya lembaga pendidikan yang ada di kerajaan Utsmani. Di madrasah hanya diajarkan agama. Pengetahuan umum tidak diajarkan, Sultan Mahmud II sadar bahwa pendidikan madrasah tradisional ini tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman abad ke-19.
3. Tanzimat (1839-1876)
Pada periode ini program reformasi diperluas dari bidang militer dan administrasi kepada bidang ekonomi, sosial, dan bidang keagamaan. Membangun sejumlah pabrik, penambangan batu bara, baja dan tembaga, serta membangkitkan perkembangan pertanian, dengan menempuh kebijakan reklamasi dan transmigrasi.
Meskipun reformasi pendidikan Utsmani telah dilancarkan bersamaan dengan pembentukan sekolah-sekolah profesional, sebuah sistem pendidikan baru mencakup pendidikan dasar dan pendidikan lanjutan dibentuk untuk mempersiapkan para pelajar ke jenjang pendidikan menengah (Rusbdiye), dan mendukung sekolah-sekolah umum lainnya.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Umat Islam mengalami puncak keemasan pada masa pemerintahan Abbasiyah. Pada masa itu bermunculan para pemikir Islam kenamaan yang sampai sekarang pemkiriannya masih diperbincangkan dan dijadikan dasar pijakan bagi pemikiran di masa mendatang, baik dalam bidang keagamaan maupun umum
2. Kerajaan utsmani di samping merupakan kerajaan Islam pertama yang berdiri juga yang terbesar dan paling lama bertahan dibanding dua kerajaan lainnya. Sementara untuk pendidikan Islam kurang mendapat perhatian yang serius dan juga terhambat kemajuannya, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa pada tiap-tiap masa pasti akan memunculkan tokoh-tokoh atau ulama kenamaan. Walaupun jumlah ulama yang muncul tidak sebanyak pada masa Abbasiyah yang merupakan puncak keemasan Islam.
3. Imperium Utsmani akhir abad ke-19, dan dalam pembentukan negara Turki modern, pertimbangan utamanya adalah kontinuitas bentuk kesejarahan institusional dan kultural. Berbeda dengan beberapa imperium muslim lainnya, Utsmani dapat mempertahankan pemerintahannya sehingga mampu menyusun program modernisasi dan reformasinya sendiri.

B. Saran
Dalam penyusunan makalah ini, penyusun merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknik penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penyusun. Penyusun menerima saran dan kritik yang bersifat membangun dan dapat lebih menyempurnakan makalah ini.

DAFTAR RUJUKAN
Siswanto. Dinamika Pendidikan Islam Perspektif Historis. Surabaya: Pena Salsabila, 2013.
Nata, Abuddin. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2011.
Nata, Abuddin (Ed.). Sejarah Pendidikan Islam Pada Periode Klasik dan pertengahan. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004.
Ira. M . Lapidus. Sejarah Sosial Ummat Islam, Bagian ketiga. Jakarta: Rajagrafindo, 1988.
Zuhairini, dkk. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1997.
Share:

TRADITIONAL ISLAMIC EDUCATION IS AIMS AND PURPOSES IN THE PRESENT DAY

TRADITIONAL ISLAMIC EDUCATION
IS AIMS AND PURPOSES IN THE PRESENT DAY
Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Reading Teks Of Islamic Education yang dibina oleh Bapak Dr.H.M. Muchlis Sholichin, M.Ag

Dari Al-Azhar, Zaki Badawi pergi untuk mengajar di Universitas Muslim Malaya, kemudian dia bergabung di Universitas Singapore, dan kemudian Universitas Malaya di Kuala Lumpur. Dua belas tahun yang lalu dia pindah ke Nigeria. Disana, baru-baru ini, dia adalah seorang profesor islamic studies di Universitas Abdullahi Bayero, universitas Ahmadu Bello di Kano. Sekarang dia adalah seorang direktur di pusat pusat budaya islami (Islamic culture centre), London.
Pendidik muslim dengan bulat menyetujui bahwa maksud dari pendidikan yaitu tidak untuk memaksakan fikiran murid dengan fakta tetapi untuk memperbaiki mereka dalam hidup dalam kemurnian dan ketulusan. Komitmen mutlak ini untuk pembentukan karakter berdasarkan pada etika islam yang baik yang merupakan paling tingginya tujuan pendidikan islam.
Masyarakat muslim secara murni harus mengarah pada penanaman prinsip-prinsip islam dihati dan pemikiran anak yang mencapai terhadap kepercayaan yang baik, kelancaran seorang Ummah yang Al-qur’an jelaskan ‘ negara yang baik yang pernah melahirkan untuk laki-laki.’ Ummah telah menjelaskan tidak pada keunggulannya dalam pengetahuan atau bakat tetapi terhadap fakta bahwa itu merupakan perintah kebaikan dan larangan keburukan dan kepercayaan terhadap Allah.
Beberapa sistem pendidikan menekankan pendidikan untuk keunggulan individu. Ketertarikan dan tujuan masyarakat sebagai merupakan terhadap individu tersebut seperti sebuah sistem. Orang-orang yang tersesat terdahulu di Yunani merumuskan dan mempertahankan pandangan ini. Tetapi ada sebagian pendapat yang berlawanan dan mengabaikan ketertarikan dan tujuan pada individu terhadap masyarakat tersebut. Contoh paling jelas dalam sikap ini adalah Sparta. Disana, satu-satunya maksud pendidikan adalah untuk meredamkan identitas individu terhadap jumlah dalam kelompok.
Islam mengakibatkan sebuah keseimbangan antara dua kecenderungan. Individu yang baik bukan korban untuk kebaikan kelompok atau bukan tujuan kelompok yang memberi tempat kedua terhadap inividu tersebut.
Keseimbangan ini merujuk sampai semua aspek pendidikan muslim dan merupakan pernyataan sebagian besar ketertarikan di wilayah pengarahan dan tujuannya. Untuk mengilustrasikan pemaksaan ini kita boleh menggunakan analisis tipe-tipe pendidikannya Max Weber. Dia membagi tiga tipe. Pertama dia beri nama dengan ‘ pendidikan karisma’ (charismatic education) yang mendominasi ‘ di periodee agama yang mana yang jangkauanya merupakan poin tertinggi’ itu merupakan pengarahan terhadap kesadaran ‘ intuisi keagamaan dan kesiapan hati dalam pengalaman trasidental.’ Pengarahan yang utama dalam hal ini ‘ bukan merupakan pergantian pada kandungan khusus atau bakat atau untuk mengaduk kepastian kemampuan bawaan lahir. Tipe ini mungkin memberikan contoh oleh apa yang Sufi-Sufi sebut ‘tarbiyah’. Ini terkait keutamaan dengan kebaikan hati individu.
Kedua dan tipe yang sangat berbeda yaitu ‘ pendidikan budaya’. Ini berdasarkan terhadap ‘kepercayaan yang khusus atas kandungan-kandungan yang dirasa klasik mempunyai qualifikasi diri terhadap pengelolaan sebuah tipe sosial khusus. Ini tidak hanya substansi yang bernilai tapi gaya hidup yang tanpa disadari akan berpindah sampai kebaikan itu hadir. Bukan kandungan yang serupa tetapi yang berhubungan dengan daya pendidikan yang menjadi tekanan. Contoh yang bagus adalah penciptaan terhadap kegagahan laki-laki atau mandarin cina yang disebut ilmu yang mempelajari tentang klasik khusus sebuah mental jiwa, gaya berfikir, dan watak diri, dan perasaan. ‘ yang ditekankan disini adalah pada perbedaan sosial.
Tipe ketiga yaitu ‘ khusus pendidikan’. Ini diminta untuk mengganti pengetahuan tertentu atau bakat dan dengan keras menyambungkan dengan pertumbuhan dalam devisi tenaga kerja yang membuat ahli yang sangat dibutuhkan dalam industri masyarakat modern. Tipe ini dicontohkan oleh percobaan yang memberi beberapa sekolah pandangan sekuler modern dimana seluruh hubungan merupakan kemurnian mekanik dan kekurangan pendidikan karisma dan perhatian terhadap pendidikan karakteristik keperibadian seseorang.
Islam memadukan tiga tipe itu dalam sistem pemberian keunggulan kemurnian diri untuk menjadi pernyataan dalam kesadaran sosial dan idealistis mencoba kearah penguasaan terhadap beberapa kemampuan yang membuat manusia memiliki tugasnya sendiri.
Pendidikan muslim tradisional bukan merupakan sebuah aktivitas yang memisahkan dari aspek-aspek masyarakat lain. Ini bertindak dalam keselarasan dengan semua aktivitas lainnya dan lembaga dalam memperkuat mereka dan menjadi penguat mereka. Tidak heran, masjid, pusat ativitas keagamaan, merupakan puncak dari semua sistem. Baik pendidik ataupun murid yang mengasingkan dari ketenangan masyarakat. Mereka lebih banyak sering daripada mengkombinasi fungsi lain dengan pendidikan itu, jadi menahan kontak kedekatan mereka kehidupan sehari-hari. Selalu terdapat hubungan kedekatan pribadi antara guru dan murid yang menjamin moral dan spritual pemimpin yang diberikan selama pengajaran kemampuan yang bermacam-macam.
Kesuksesan adalah jelas penting, tetapi kegagalan tidak mengarah pada individu. Beban ketidak bergunaan bagi masyarakat apaun yang ia pelajari sedikit apapun akan menjadi sebuah nilai dan perannya di masyarakat. Kemamfaatan akan terjamin.
Prestasi siswa dalam sistem nasional diukir dengan sosialitas sebagai seorang manusia. Kepeduliannya dan moral yang dilaksanakan harus disamaratakan dengan kecerdasan untuk prestasinya di daerah lain.
Subyek inti dari perangkat terakhir ajaran Al-Qur’an, studi Al-Qur’an adalah diletakan pada sekolah-sekolah tradisonal dan sangat penting sampai sekarang sebagai materi inti harus tahu baca tulis Al-Qur’an.
Pendidikan anak muslim di mulai dari kitab suci Al-Qur’an yang mereka belajar menulis dan menghafal. Kitab suci Al-Qur’an adalah petunjuk final dalam kepercayaan dasar dalam aqidah. Bentuk-bentuk ibadah dan perilaku ibadah, petunjuk paten dalam Al-Qur’an.
KESIMPULAN
1. Pendidik muslim dengan bulat menyetujui bahwa maksud dari pendidikan yaitu tidak untuk memaksakan fikiran murid dengan fakta tetapi untuk memperbaiki mereka dalam hidup dalam kemurnian dan ketulusan. Komitmen mutlak ini untuk pembentukan karakter berdasarkan pada etika islam yang baik yang merupakan paling tingginya tujuan pendidikan islam.
2. Beberapa sistem pendidikan menekankan pendidikan untuk keunggulan individu. Ketertarikan dan tujuan masyarakat sebagai merupakan terhadap individu tersebut seperti sebuah sistem. Orang-orang yang tersesat terdahulu di Yunani merumuskan dan mempertahankan pandangan ini. Tetapi ada sebagian pendapat yang berlawanan dan mengabaikan ketertarikan dan tujuan pada individu terhadap masyarakat tersebut. Contoh paling jelas dalam sikap ini adalah Sparta. Disana, satu-satunya maksud pendidikan adalah untuk meredamkan identitas individu terhadap jumlah dalam kelompok.
3. Untuk mengilustrasikan pemaksaan ini kita boleh menggunakan analisis tipe-tipe pendidikannya Max Weber. Dia membagi tiga tipe. Pertama dia beri nama dengan ‘ pendidikan karisma’ (charismatic education) yang mendominasi ‘ di periodee agama yang mana yang jangkauanya merupakan poin tertinggi’ itu merupakan pengarahan terhadap kesadaran ‘ intuisi keagamaan dan kesiapan hati dalam pengalaman trasidental.’ Pengarahan yang utama dalam hal ini ‘ bukan merupakan pergantian pada kandungan khusus atau bakat atau untuk mengaduk kepastian kemampuan bawaan lahir. Tipe ini mungkin memberikan contoh oleh apa yang Sufi-Sufi sebut ‘tarbiyah’. Ini terkait keutamaan dengan kebaikan hati individu.
4. Islam memadukan tiga tipe itu dalam sistem pemberian keunggulan kemurnian diri untuk menjadi pernyataan dalam kesadaran sosial dan idealistis mencoba kearah penguasaan terhadap beberapa kemampuan yang membuat manusia memiliki tugasnya sendiri.
5. Pendidikan muslim tradisional bukan merupakan sebuah aktivitas yang memisahkan dari aspek-aspek masyarakat lain. Ini bertindak dalam keselarasan dengan semua aktivitas lainnya dan lembaga dalam memperkuat mereka dan menjadi penguat mereka. Tidak heran, masjid, pusat ativitas keagamaan, merupakan puncak dari semua sistem.
6. Kesuksesan adalah jelas penting, tetapi kegagalan tidak mengarah pada individu. Beban ketidak bergunaan bagi masyarakat apaun yang ia pelajari sedikit apapun akan menjadi sebuah nilai dan perannya di masyarakat. Kemamfaatan akan terjamin
7. Prestasi siswa dalam sistem nasional diukir dengan sosialitas sebagai seorang manusia. Kepeduliannya dan moral yang dilaksanakan harus disamaratakan dengan kecerdasan untuk prestasinya di daerah lain.




Share:

Makalah Mudharobah sebuah aplikasi berbasis Syariah

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dalam Islam qiradh dan mudharabah merupakan salah satu bentuk akad pembiayaan yang akan diberikan kepada manusia. sistem dari mudharabah ini merupakan akad kerja sama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama menyediakan seluruh modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola. keuntungan usaha dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak.
Dalam kontrak mudharabah ini mudharib (sipengelola) harus menjalankan kewajibannya menjalankan usaha dengan cara sebaik-baiknya dan bentuk usaha harus jelas dan sesuai dengan prisip Syariah bukan yang berlawanan dengan itu seperti usaha yang diharamkan oleh Allah swt.
Maka dari itu penulis ingin lebih jauh mengetahui bagaimana jalannya system pembiayan ini (mudharabah) dalam suatu kehidupan manusia.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Qiradh atau Mudharabah?
2. Bagaimana Landasan Hukum Qiradh atau Mudharabah?
3. Apa sajakah rukun dan syarat Qiradh atau Mudharabah?
4. Sebutkan macam-macam Qiradh atau Mudharabah!

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian Qiradh atau Mudharabah.
2. Untuk mengetahui landasan Hukum Qiradh atau Mudharabah.
3. Untuk mengetahui rukun dan syarat Qiradh atau Mudharabah
4. Untuk mengetahui macam-macam Qiradh atau Mudharabah.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Qiradh dan Mudharabah
Mudharabah atau qiradh termasuk salah satu bentuk akad syirkah (perkongsian). Istilah Mudharabah digunakan oleh orang irak, sedangkan orang hijaz menyebutnya dengan istilah Qiradh, dengan demikian mudharabah dan qiradh adalah dua istilah untuk maksud yang sama.
Menurut bahasa Qiradh diambil dari kata yang berarti (potongan), sebab pemilik memberikan potongan dari hartanya untuk diberikan kepada pengusaha agar mengusahakan harta tersebut, dan pengusaha akan memberikan potongan dari laba yang diperoleh. Bisa juga diambil dari kata Muqaradhah yang berarti (kesamaan), sebab pemilik modal dan pengusaha memiliki hak yang sama terhadap laba. Orang irak menyebutnya dengan istilah mudharabah, sebab (setiap orang melakukan akad memiliki bagian dari laba) atau pengusaha harus mengadakan perjalanan dalam mengusahakan harta modal tersebut,
Menurut istilah Syara’ mudharabah berarti akad diantara dua pihak untuk bekerja sama dalam usaha perdagangan dimana salah satu pihak memberikan dana kepada pihak lain sebagai modal usaha dan keuntungan dari usaha itu akan dibagi diantara mereka berdua sesuai perjanjian yang telah disepakati.
Dengan ungkapan lain Nasbi Ash Shiddiqy mengatakan bahwa mudharabah adalah semacam syarikat aqad, bermufakat dua orang padanya dengan ketentuan dari pihak satu, sedangkan usaha menghasilkan keuntungan dari pihak yang lain, dan keuntungannya dibagi diantara mereka.

B. Landasan Hukum
Al Qur’an Ayat-ayat yang berkenaan denan mudharabah antara lain:
        
Dan orang-orang yang berjalan dimuka bumi mencari sebagian karunia Allah” (QS.Al Mujammil:20)
 •        
“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (Rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu”. (QS.Al Baqarah: 198)
As Sunah Diantara hadits yang berkaitan dengan mudharabah adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Syuhaib bahwa Nabi SAW bersabda: “Tiga perkara yang mengandung berkah adalah jual beli yang ditangguhkan melakukan qiradh (memberi modal kepada orang lain) dan yang mencampurkan gandum dengan jelas untuk keluarga, bukan untuk diperjual belikan” (HR. Ibnu Majah dan Shuhaib)
Dalam hadits yang lain diriwayatkan oleh Tabrani dan Ibnu Abbas bahwa Abbas Ibn Muthalib jika memberikan harta untuk mudarabah, dia mensyaratkan kepada pengusaha untuk tidak melewati lautan, menuruni jurang dan membeli hati yang lembab. Jika melanggar persyaratan tersebut ia harus menanggungnya. Persyaratan tersebut disampaikan kepada Rasulullah SAW dan beliau memperbolehkannya. Ijma’ Diantara ijma’ dalam mudharabah adanya riwayat yang menyatakan bahwa jemaah dari sahabat menggunakan harta anak yatim untuk mudharabah, perbuatan tersebut tidak ditentang oleh sahabat lainnya.
Qiyas Mudharabah diqiyaskan kepada Al-Musyaqoh (menyuruh seseorang untuk mengelola kebun). Selain diantara manusia ada yang miskin dan ada pula yang kaya. Disatu sisi banyak orang kaya yang tidak dapat mengusahakan hartanya. Disisi lain tidak sedikit orang miskin yang mau bekerja, tetapi tidak memiliki modal.
Dengan demikian adanya mudharabah ditujukan antara lain untuk memenuhi kebutuhan kedua golongan diatas yakni untuk kemaslahatan manusia dalam memenuhi kebutuhan mereka.

C. Rukun Mudharabah
Para ulama berbeda pendapat tentang rukun mudharabah. Ulama Hanafiah berpendapat bahwa rukun mudharabah adalah ijab dan qabul, yakni lafadz yang menunjukkan ijab dan qabul dengan menggunakan mudharabah, muqaridhah, muamalat atau kata-kata yang searti dengannya. Jumhur ulama berpendapat rukun mudharabah ada tiga, yaitu:
1. Al Aqidani
2. Ma’qud Ilaih
3. Shighat
D. Jenis-Jenis Mudharabah
a. Mudharabah muthlaqoh
Dimana pemilik modal (shahibul maal) memberikan keleluasaan penuh kepada pengelola (mudharib) untuk mempergunakan dana tersebut dalam usaha yang dianggapnya baik dan menguntungkan. Namun pengelola tetap bertanggung jawab untuk melakukan pengelolaan sesuai dengan praktek kebiasaan usaha normal yang sehat (uruf)
b. Mudharabah muqoyyadah
Dimana pemilik dana menentukan syarat dan pembatasan kepada pengelola dalam penggunaan dana tersebut dengan jangka waktu, tempat, jenis usaha dan sebagainya

E. Sifat Mudharabah
Ulama fiqih sepakat bahwa akad dalam mudharabah sebelum dijalankan oleh pekerja termasuk akad yang tidak lazim. Apabila sudah dijalankan oleh pekerja, diantara ulama terdapat perbedaan pendapat, ada yang berpendapat termasuk akad yang lazim yakni dapat diwariskan seperti pendapat Imam Malik, sedangkan menurut ulama Syafi’iyah Malikiyah dan Hanabilah akad tersebut tidak lazim yakni tidak dapat diwariskan.

F. Syarat Sah Mudharabah
Syarat Aqidani Disyaratkan bagi orang yang akan melakukan akad, yakni pemilik modal an pengusaha adalah ahli dalam mewakilkan atau menjadi wakil, sebab mudharib mengusahakan harta pemilik modal, yakni menjadi wakil, namun demikian tidak disyaratkan harus muslim, mudharabah dibolehkan dengan orang kafir Dzimmi.
Adapun ulama malikiyah memakruhkan mudharabah dengan kafir Dzimmi jika mereka tidak melakukan riba dan melarangnya jika mereka melakukan riba. Syarat modal Modal harus berupa uang, seperti dinar, dirham atau sejenisnya Modal harus diketahui dengan jelas dan memiliki ukuran Modal harus ada, bukan berupa utang, tetapi tidak berarti harus ada ditempat akad Modal harus diberikan kepada pengusaha Syarat-syarat laba Laba harus memiliki ukuran Laba harus berupa bagian yang umum (Masyhur)


G. Hukum Mudharabah
Hukum mudharabah terbagi dua yaitu mudharabah shahih dan mudharabah fasid. Hukum mudharabah fasid Adalah mengatakan “berburulah dengan jaring saya dan hasil buruannya dibagi diantara kita”, ulama hanafiyah, syafi’iyah dan hanabilah berpendapat bahwa pernyataan termasuk tidak dapat dikatakan mudharabah yang shahih karena pengusaha (pemburu) berhak mendapatkan upah atas pekerjaannya, baik ia mendapatkan buruan atau tidak hasil yang diperoleh pengusaha atau pemburu tidak memiliki hak sebab akadnya fasid. Tentu saja kerugian yang adapun ditanggung sendiri oleh pemilik modal. Namun jika modal rusak atau hilang yang diterima adalah ucapan pengusaha dengan sumpahnya.
Pendapat ulama syafi’iyah dan hanabilah hampir sama dengan pendapat ulama hanafiyah. Hukum mudharabah shahih Hukum mudharabah shahih yang tergolong shahih cukup banyak diantaranya sebagai berikut: Tanggung jawab pengusaha Tasyaruf pengusaha Hukum tentang tasyaruf pengusaha berbeda-beda bergantung pada mudharabah mutlak atau terikat.

H. Pertentangan Antara Pemilik dan Pengusaha
Perbedaan dalam mengusahakan (Tasyaruf) harta. Diantara pemilik modal dan pengusaha terkadang ada perbedaan dalam hal keumuman ber-tasyaruf, kerusakan harta, pengembalian harta, ukuran laba yang disyaratkan, serta ukuran modal Jika terjadi perbedaan antara pemilik modal dan pengusaha, yaitu satu pihak menyangkut sesuatu yang umum dan pihak lain menyangkut masalah khusus, yang diterima adalah pernyataan yang menyangkut hal-hal umum alam perdagangan, yakni menyangkut pendapatan laba, yang dapat diperoleh dengan menerapkan ketentuan-ketentuan umum.
Perbedaan dalam harta yang rusak Jika terjadi perbedaan pendapat antara pemilik modal dan pengusaha tentang rusaknya harta, seperti pengusaha menyatakan bahwa kerusakan disebabkan pemilik modal, tetapi pemilik modal mengingkarinya, maka yang diterima berdasarkan kesepakatan para ulama, adalah ucapan pengusaha sebab pada dasarnya ucapan pengusaha adalah amanah yakni tidak ada khianat. Perbedaan tentang pengembalian harta Jika terjadi perbedaan pendapat antara pemilik modal dan pengusaha tentang pengembalian harta, seperti ucapan pengusaha bahwa modal telah dikembalikan, yang diterima menurut ulama Hanafiyah dan Hanabilah adalah pernyataan pemilik modal.
Adapun menurut ulama Malikiyah dan Syafi’iyah yang diterima adalah ucapan pengusaha, sebab pengusaha dipercaya. Perbedaan dalam jumlah modal Ulama fiqih sepakat bahwa jika terjadi perbedaan pendapat tentang jumlah modal, yang diterima adalah ucapan pengusaha sebab dialah yang memegangnya. Perbedaan dalam ukuran laba Ulama hanafiyah dan hanabilah berpendapat bahwa ucapan yang diterima adalah pernyataan pemilik modal, jika pengusaha mengakui bahwa disyaratkan baginya setengah laba, sedangkan menurut pemilik adalah sepertiganya.
Ulama malikiyah berpendapat, yang diterima adalah ucapan pengusaha beserta sumpahnya denan syarat: Harus sesuai dengan kebiasaan manusia yang berlaku dalam mudharabah. Harta masih dipegang oleh pengusaha. Menurut ulama syafi’iyah’ jika terjadi perbedaan pendapat dalam pembagian laba, harus diputuskan oleh hakim, kemudian pengusaha berhak mendapatkan upah atas perniagaanya.

I. Perkara Yang Membatalkan Mudharabah
Pembatalan, Larangan Berusaha, dan Pemecatan Mudharabah menjadi batal dengan adanya pembatalan mudharabah, larangan untuk mengusahakan (Tasyaruf), dan pemecatan. Semua ini jika memenuhi syarat pembatalan dan larangan, yakni orang yang melakukan akad mengetahui pembatalan dan pemecatan tersebut, serta modal telah diserahkan ketika pembatalan atau larangan. Akan tetapi jika pengusaha tidak mengetahui bahwa mudharabah telah dibatalkan, pengusaha (mudharib) dibolehkan untuk tetap mengusahakannya.
Salah seorang akid meninggal dunia Jumhur lama berpendapat bahwa mudharabah batal jika salah seorang aqid meninggal dunia, baik pemilik modal maupun pengusaha. Hal ini karena mudharabah berhubungan dengan perwakilan yang akan batal dengan meninggalnya wakil atau yang mewakilkan. Pembatalan tersebut dipandang sempurna dan sah, baik diketahui salah seorang yang melakukan akad atau tidak. Salah seorang aqid gila Jumhur ulama berpendapat bahwa gila membatalkan mudharabah, sebab gila atau sejenisnya membatalkan keahlian dalam mudharabah.
Pemilik modal murtad Apabila pemilik modal murtad (keluar dari islam) atau terbunuh dalam keadaan murtad, atau bergabung dengan musuh serta telah diputuskan oleh hakim atas pembelotannya, menurut imam abu hanifah, hal itu membatalkan mudharabah sebab bergabung dengan musuh sama saja dengan mati.
Hal itu menghilangkan keahlian dalam kepemilikan harta, dengan dalil bahwa harta orang murtad dibagikan diantara para ahli warisnya. Modal rusak ditangan pengusaha Jika harta rusak sebelum dibelanjakan, mudharabah menjadi batal. Hal ini karena modal harus dipegang oleh pengusaha. Jika modal rusak, mudharabah batal. Begitu pula, mudharabah dianggap rusak jika modal diberikan kepada orang lain atau dihabiskan sehingga tidak tersisa untuk diusahakan.

J. Macam-macam Mudharabah
Qirad dapat dilakukan oleh perorangan,dapat pula dilakukan oleh organisasi atau lembaga lain dengan nasabahnya. Dalam kehidupan modern,qirad dapat berupa kredit candak kulak,KPR,dan KMKP.
Kredit Candak Kulak Kredit candak kulak ialah pinjaman modal yang diberikan kepada para pedagang kecil dengan sistem pengembalian sekali dalam seminggu dan tanpa tanggungan atau jaminan.biasanya kredit candak kulak dilakukan oleh KUD. Kredit jenis ini bertujuan untuk membantu masyarakat kecil agar dapat memiliki jenis usaha tertentu, misalnya berjualan makanan ringan,membuat tempe kedelai,atau usaha lain yang memerlukan biaya relatif ringan. Dengan cara seperti ini, diharapkan mereka pada saat nanti dapat terangkat dari masyarakat prasejahtera menjadi sejahtera dan tidak menggantungkan nasibnya kepada orang lain.
Kredit Pemilikan Rumah (KPR) KPR bertujuan untuk membantu masyarakat yang belum memiliki rumah. Bank menyediakan fasilitas berupa perumahan,dari yang bertipe sederhana hingga mewah.Masyarakat yang berminat untuk memiliki rumah tersebut diwajibkan membayar uang muka yang besarnya bervariasi, sesuai dengan tipe rumah yang diinginkan. Selanjutnya,pada jangka waktu tertentu orang itu membayar angsuran sesuai dengan perjanjian yang dibuat kedua belah pihak.
Dengan demikian, diharapkan masyarakat tidak terlalu berat untuk memiliki rumah. Kredit Modal Karya Permanen (KMKP) KMKP dilaksanakan baik oleh bank negara maupun bank swasta. Pada saat ini, kredit jenis ini sudah tidak ada, yang ada sekarang adalah KUK (Kredit Usaha kecil). Kredit ini hanya melayani masyarakat yang sudah mampu sehingga lebih bersifat pengembangan usaha nya.

K. Hikmah Mudharabah
a) Terwujudnya tolong menolong sebab tidak jarang orang yang punya modal Tetapi tidak punya keahlian berdagang atau sebaliknya punya keahlian berdagang tetapi tidak punya modal.
b) Salah satu perilaku ibadah yang lebih mendekatkan diri pada rahmat Allah karena dapat melepaskan kesulitan orang lain yang sangat membutuhkan pertolongan. Bagi yang mengqiradkan akan diberikan pahala dan kemudahan oleh Allah baik urusan dunia maupunurusan akhirat.
c) Terciptanya kerjasama antara pemberi modal dan pelaksanaan yang pada akhirnya dapat menumbuhkan dan memperkembangkan perekonomian ummat.
d) Terbinanya pribadi-pribadi yang taaluf (rasa dekat) antara keduanya Yang memberikan pinjaman modal akan mendapat unggulan pahala hingga delapan belas kali lipat bisa dibandingkan dengan sedekah hanya sepuluh kali.


BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dalam pembahasan yang telah kami sampaikan dapat kami simpulkan bahwasannya Islam membentuk suatu system ekonomi sangatlah jelas dan transparan tidak hanya sekedar melihat salah satu aspek saja akan tetapi Islam memperhatikan di berbagai aspek yang dapat menimbulkan suatu permasalahan dan juga islam meperhatikan orang-orang yang terlibat didalamnya khususnya dalam hal laba dan rugi yang mereka dapatkan.
Berbeda dengan system ekonomi konvensional yang mengandung unsure riba yang sangat di larang didalam Islam dan mereka hanya memandang orang-orang yang diatas dalam artian orang-oatang kaya raya tanpa memperhatikan orang yang dibawah dalam artian orang –orang miskin.
Mereka mempunyai slogan mempunyai modal sekecil-kecilnya dan mendapatkan laba yang sebesar-besarnya. Sehingga orang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.

DAFTAR RUJUKAN

Doi rahman abdur, muamalah, raja grafindo persada, jakarta, 1996
Hafidhudin didin, zakat,infak, sedekah, gema insani press,jakarta,2002
suhendi hendi, Fiqh Muamalah, Rajawali Pres, Jakarta, 2011



Share:

Popular Posts

Label