Belajar Blog, Ilmu dan Pengalaman

Rabu, 31 Mei 2017

Supervisi Pendidikan

ABTSRAK
Dalam dunia pendidikan di Indonesia, perkataan supervisi belum begitu populer. Sejak zaman penjajahan Belanda hingga sekarang orang lebih mengenal kata “Inspeksi” daripada supervisi. Inspeksi bersifat ototeratis yang berarti mencari kesalahan-kesalahan guru dan kemudian menghukumnya. Sedangkan supervisi bersifat lebih demokratis, yang didalam pelaksanaannya supervisi bukan hanya mengawasi apakah para guru/pegawai menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya sesuai dengan instruksi atau ketentuan-ketentuan yang telah digariskan, tetapi juga berusaha bersama guru-guru bagaimana cara-cara memperbaiki proses belajar mengajar.
Oleh karena itu, kemampuan mengajar guru menjadi jaminan tinggi rendahnya kualitas layanan belajar, sehingga terjadi perubahan perilaku akademik pada muridnya yang pada gilirannya akan meningkatkan mutu hasil belajarnya. Pelaksanaan supervisor, apakah yang melaksanakan adalah pengawas sekolah, penilik, atau kepala sekolah seharusnya berlandaskan kepada prinsip-prinsip supervisi pendidikan. Dari prinsip tersebut bagimana cara mengubah pola pikir yang bersifat otokrat dan korektif menjadi sikap yang konstruktif dan kreatif. Suatu sikap yang menciptakan situasi dan relasi dimana guru-guru merasa aman dan merasa diterima sebagai subyek yang dapat berkembang sendiri. Untuk itu supervisi harus dilaksanakan berdasarkan data, fakta yang obyektif
Kata Kunci, Prinsip Supervisi, Kinerja Guru, Supervisor
  1. PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukkan pribadi manusia. Pendidikan sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya pribadi manusia menurut ukuran normatif. Menyadari akan hal tersebut, pemerintah sangat serius menangani bidang pendidikan, sebab dengan sistem pendidikan yang baik diharapkan muncul generasi penerus bangsa yang berkualitas dan mampu menyesuaikan diri untuk hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Pendidikan dikatakan sebagai salah satu unsur paling penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan merupakan proses pendewasaan diri manusia serta proses pembentukan pribadi dan karakter manusia. Manusia diberikan dasar-dasar pengetahuan sebagai pegangan dalam menjalani hidup dan menghadapi kenyataan hidup. Dalam pendidikan formal, sekolah menjadi suatu jenjang yang sudah selayaknya dilalui dalam proses kehidupan manusia. Karena pendidikan sekolah tidak hanya bertujuan melatih kedewasaan tetapi juga mengasah intelektualitas, kompetensi, tanggung jawab dan kesadaran
Agar proses pendidikan berlangsung dengan baik diperlukan sumber daya manusia yang handal untuk melaksanakan tugas sebagai pendidik. Perencanaan atau kurikulum pendidikan yang sesuai juga sangat mempengaruhi agar tujuan pendidikan tersebut tercapai. Kurikulum tersebut berisi standar-standar pembelajaran dan pengembangan intelektualitas manusia. Untuk itu, berkembangnya sebuah sekolah atau lembaga pendidikan, dengan hasil output yang bagus, kinerja guru yang profesional, serta prestasi sekolah yang membanggakan tentu tidak terlepas dari peran seorang supervisor.
Supervisor adalah orang yang bertugas mengawasi setiap pelaksanaan program pendidikan di suatu lembaga pendidikan. Supervisor mengadakan pengawasan dan bertanggung jawab tentang keefektifan program tersebut. Supervisor meneliti ada atau tidaknya kondisi-kondisi yang memungkinkan tercapainya tujuan-tujuan pendidikan. Pastinya dalam mengadakan supervisi pendidikan harus berpegang pada prinsip-prinsip supervisi. Apa sajakah prinsip-prinsip supervisi pendidikan? Akan dibahas lebih lanjut dalam artikel ini.
  1. PEMBAHASAN
1.      pengertian prinsip
Prinsip menurut Bahasa adalah suatu pernyataan fundamental atau kebenaran umum maupun individual yang dijadikan oleh seseorang/kelompok sebagai sebuah pedoman untuk berpikir atau bertindak.
            Ada beberapa pendapat mengenai pengertian prinsip, yaitu:
a.    Palgunadi Tatit Setyawan Prinsip adalah hal yang membatasi esensi.
b.    Russel Swanburg Prinsip adalah kebenaran yang mendasar, hukum atau doktrin yang mendasari gagasan.
c.    Toto Asmara Prinsip adalah hal yang secara fundamental menjadi martabat diri atau dengan kata lain, prinsip adalah bagian paling hakiki dari harga diri.
d.   Udo Yamin Efendi Majdi Prinsip adalah pedoman berprilaku yang terbukti mempunyai nilai yang langgeng dan permanen.
e.    Ahmad Jauhar Tauhid Prinsip adalah pandangan yang menjadi panduan bagi perilaku manusia yang telah terbukti dan bertahan sekian lama.[1]
  1. Pengertian Supervisi
Secara morfologis, supervisi terdiri dari dua kata yaitu “super” yaitu atas, lebih dan “visi” yaitu lihat/ penglihatan, pandangan. Jadi seorang supervisor memiliki kelebihan dalam banyak hal seperti penglihatan, pandangan, pendidikan, pengalaman, dll.[2]
Dalam dunia pendidikan di Indonesia, perkataan supervisi belum begitu popular. Sejak zaman penjajahan Belanda hingga sekarang orang lebih mengenal kata “Inspeksi” daripada supervisi. Inspeksi bersifat ototeratis yang berarti mencari kesalahan-kesalahan guru dan kemudian menghukumnya. Sedangkan supervisi bersifat lebih demokratis, yang didalam pelaksanaannya supervisi bukan hanya mengawasi apakah para guru/pegawai menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya sesuai dengan instruksi atau ketentuan-ketentuan yang telah digariskan, tetapi juga berusaha bersama guru-guru bagaimana cara-cara memperbaiki proses belajar mengajar.
Oleh karena itu, kemampuan mengajar guru menjadi jaminan tinggi rendahnya kualitas layanan belajar. Kegiatan supervisi menaruh perhatian utama para guru, kemampuan supevisor membantu guru-guru tercermin pada kemampuannya memberikan bantuannya kepada guru. Sehingga terjadi perubahan perilaku akademik pada muridnya yang pada gilirannya akan meningkatkan mutu hasil belajarnya. Pelaksanaan supervisor, apakah yang melaksanakan adalah pengawas sekolah, penilik, atau kepala sekolah seharusnya berlandaskan kepada prinsip-prinsip supervisi.
Agar supervisi dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien perlu diperhatikan macam-macam prinsip supervisi sebagai berikut:
1.      Prinsip Praktis yaitu dapat dikerjakan sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Dalam prinsip ini terdapat dua sisi, yaitu:
  • Prinsip Negatif: Prinsip negatif merupakan pedoman yang tidak boleh dilakukan seorang supervisor dalam pelaksanaan supervisi antara lain: Supervisi tidak boleh bersifat mendesak (otoriter), Supervisi tidak boleh didasarkan atas kekuasaan, Supervisi tidak mencari kelemahan/kekurangan/ kesalahan, Supervisi jangan terlalu berharap cepat mengharapkan hasil atau perubahan, Supervisi tidak boleh menuntut prestasi di luar kemampuan bawahannya, dan Supervisi tidak boleh egois, tidak jujur dan menutup diri terhadap kritik dan saran dari bawahannya.[3]
  • Prinsip Positif. Prinsip positif merupakan pedoman yang harus dilakukan seorang supervisor agar berhasil dalam pembinaannya antara lain harus,  Supervisi bersifat konstruktif dan kreatif, Supervisi didasarkan kepada sumber-sumber kolektif dari kelompok tidak hanya dari supervisor sendiri, Supervisi harus dilakukan berdasarkan hubungan professional, bukan berdasarkan hubungan pribadi, Supervisi hendaknya progresif, tekun, sabar, tabah, dan tawakal. Supervisi harus jujur, objektif dan siap mengevaluasi diri sendiri demi kemajuan.[4]
2.      Prinsip Fungsional, Yaitu supervisi yang dapat berfungsi sebagai sumber informasi bagi pengembangan manajemen pendidikan dan peningkatan proses belajar mengajar.
3.      Prinsip Relevansi, Yaitu pelaksanaan supervisi seharusnya sesuai dan menunjang pelaksanaan yang berlaku.
4.      Prinsip Ilmiah, Yaitu supervisi perlu dilaksanakan secara:
a.       Sitematis, terprogram, dan berkesinambungan.
b.      Objektif, bebas dari prasangka.
c.       Menggunakan prosedur dan instrument yang sah dan terandalkan.
d.      Didasarkan pada pendekatan system.[5]
Adapun ciri-ciri dalam prinsip ilmiah sebagai berikut:
a.         Kegiatan supervisi dilaksanakan berdasarkan data objektif yang diperoleh dalam kenyataan pelaksanaan proses belajar mengajar.
b.             Untuk memperoleh data, perlu diterapkan alat perekam data.
c.         Setiap kegiatan supervisi dilaksanakan secara sistematis, berencana dan kontinu.[6]
5.      Prinsip Demokratis, Yaitu servis dan bantuan yang diberikan kepada Guru berdasarkan hubungan kemanusiaan yang akrab dan kehangatan sehingga guru-guru merasa aman dan nyaman dalam melaksanakan tugasnya. Demokratis mengandung makna menjunjung tinggi harga diri dan martabat guru. Dalam prinsip demokratis mengambil keputusan ialah melalui musyawarah untuk mencapai mufakat.
6.      Prinsip Kooperatif (Kerja Sama), Prinsip kooperatif mengharuskan adanya semangat kerja sama antarsupervisor dengan supervise (guru). Hasil karya manusia dapat dicapai seoptimal mungkin apabila terjalin kerja sama yang baik antara manusia-manusia yang terlibat dalam suatu usaha yang dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan bersama, khususnya untuk peningkatan kualitas tenaga kependididkan yang profesional. Mengembangkan usaha bersama atau menurut istilah supervisi “sharing of  idea, sharing of experience”, member support mendorong, menstimulasi guru, sehingga mereka merasa tumbuh bersama.
7.      Prinsip Konstruktif dan Kreatif, Supervisi yang didasarnya atas prinsip konstruktif dan kreatif akan mendorong kepada orang yang dibimbingnya untuk memperbaiki kelemahan atau kekurangannya serta secara kreatif berusaha meningkatkan prestasi kerjanya. Setiap guru akan merasa termotifasi dalam mengembangkan potensi kreatifitas kalau supervisi mampu menciptakan suasana kerja yang menyenangkan.
Menurut Oteng Sutisna, ada beberapa prinsip pokok tentang supervisi, yaitu:
1)      Supervisi hendaknya disesuaikan dengan kondisi setempat karna berguna untuk memenuhi kebutuhan perseorangan dari personil sekolah.
2)      Pada dasarnya personil pelaksana pendidikan di sekolah memerlukan dan berhak atas bantuan supervisi.
3)      Supervisi hendaknya membantu menjelaskan tujuan-tujuan dan sasaran-sasarann pendidikan.
4)      Supervisi yang merupakan bantuan dan pembinaan untuk guru dan staf TU.
5)      Supervisi hendaknya merupakan wahana untuk menjelaskan dan berdiskusi tentang hasil-hasil penelitian pendidikan yang mutakhir.[7]
6)      Supervise hendaknya membantu memperbaiki sikap dan hubungan dari smua anggota staf sekolah dengan orangtua siswa dan masyarakat setempat, serta pihak-pihak yang terkait dengan kehidupan sekolah.
7)      Dalam pendidikan yang berlangsung disekolah tampaknya kepala sekolah merupakan penanggung jawab utama keberlangsungan pendidikan disekolah yang ia pimpin. Selanjutnya pengawas merupakan pejabat yang berada lebih tinggi untuk melakukan supervise.
8)      Tanggung jawab program seperti berada pada dua pejabat, pertama supervise sekolah menjadi tanggung jawab kepala sekolah sedangkan pengawas bertanggung jawab atas supervisi semua sekolah yang menjadi wewenang pembinaannya.
Dari prinsip tersebut dapat meningkat kinerja guru dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Masalah yang dihadapi dalam melaksanakan supervisi dilingkungan pendidikan ialah bagimana cara mengubah pola pikir yang bersifat otokrat dan korektif menjadi sikap yang konstruktif dan kreatif. Suatu sikap yang menciptakan situasi dan relasi dimana guru-guru merasa aman dan merasa diterima sebagai subyek yang dapat berkembang sendiri. Untuk itu supervisi harus dilaksanakan berdasarkan data, fakta yang obyektif.
  1. KESIMPULAN
a.       Prinsip menurut Bahasa adalah suatu pernyataan fundamental atau kebenaran umum maupun individual yang dijadikan oleh seseorang/kelompok sebagai sebuah pedoman untuk berpikir atau bertindak.
b.      Secara morfologis, supervisi terdiri dari dua kata yaitu “super” yaitu atas, lebih dan “visi” yaitu lihat/ penglihatan, pandangan. Jadi seorang supervisor memiliki kelebihan dalam banyak hal seperti penglihatan, pandangan, pendidikan, pengalaman, dll
c.       Prinsip-prinsip supervisi pendidikan terdiri atas beberapa macam, yaitu: Prinsip Praktis, Prinsip Fungsional, Prinsip Relevansi, Prinsip Ilmiah, Prinsip Demokratis, Prinsip Kooperatif, Prinsip Konstruktif dan Kreatif
  1. DAFTAR RUJUKAN
Ary H. Gunawan, Administrasi Sekolah, Rineka Cipta, Jakarta: 2002
Yusak Burhanuddin, Administrasi Pendidikan, Pustaka setia, Bandung: 1998.
Piet A. Sahertian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta: 2000
Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Supervisi, Rineka Cipta, Jakarta: 2004

[2] Ary H. Gunawan, Administrasi Sekolah, Rineka Cipta, Jakarta: 2002, hal. 193.
[4] Ibid, Hal. 196-197.
[5] Yusak Burhanuddin, Administrasi Pendidikan, Pustaka setia, Bandung: 1998, hal. 105.
[6] Piet A. Sahertian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta: 2000, hal. 20.
[7] Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Supervisi, Rineka Cipta, Jakarta: 2004, hal. 22-23.
Share:

Jumat, 06 Januari 2017

Info operator sekolah

Kesempatan Sinkronisasi Untuk Perbaikan Data Calon Peserta UN
Yth. Bapak/Ibu
1.    Kepala Sekolah
2.    Operator Dapodik
di seluruh Indonesia

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Pada pengumuman Tanggal 19 Desember 2016 disampaikan  bahwa sehubungan akan dilakukan pemeliharaan server Dapodikdasmen, maka Tanggal 1 Januari s/d 15 Januari 2017 server Dapodikdasmen akan down dan sekolah tidak diijinkan melakukan sinkronisasi. Dalam perkembangannya bahwasannya pada saat ini Puspendik sedang menyiapkan data Calon Peserta UN Tahun 2017, dimana secara teknis data tersebut bersumber dari Dapodikdasmen. Kondisi saat ini banyak sekolah yang melaporkan bahwa data siswa Calon Peserta UN sekolahnya belum seluruhnya valid dan harus dilakukan perbaikan melalui Aplikasi Dapodik.

Dengan pertimbangan tersebut diatas maka saat ini server Dapodikdasmen telah kembali dibuka dan sekolah dapat melakukan sinkronisasi. Hal ini dilakukan untuk memberi kesempatan bagi sekolah yang data Calon Peserta UN nya belum valid, untuk segera melakukan perbaikan data dan selanjutnya disinkronisasi. Untuk itu dihimbau sekolah untuk segera melakukan pengecekkan data khususnya data siswa kelas 6, 9 dan 12 pada Semester 1 Tahun Pelajaran 2016/2017.

Mengingat batas waktu perbaikan data di laman http://ubk.kemdikbud.go.id adalah tanggal 15 Januari 2017, maka pihak sekolah diharapkan melakukan cek ulang untuk data peserta didik dan jika ditemukan kesalahan untuk segera dilakukan perbaikan. Jika perbaikan sudah dilakukan, maka segera lakukan pengiriman data atau sinkronisasi di aplikasi Dapodik versi 2016 C. kami mohon informasi ini bisa disampaikan pada teman teman operator lainnya untuk bisa segera melakukan perbaikan data. Sinkronisasi akan di tutup kembali pada tanggal 16 Januari 2017 Jam 23.59 WIB.
BACA>>>  Manual Aplikasi Pendaftaran Calon Peserta UN 2017
Demikian informasi yang kami sampaikan dan atas perhatian serta kerjasamanya kami ucapkan terimakasih.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Salam Satu Data,

Share:

Senin, 05 Desember 2016

Aliran Progresivisme Dalam Prespektif Filsafat Pendidikan

BAB I

PENDAHULUAN
A.       Latar Bekalang Masalah
Filsafat pendidikan adalah filsafat yang diterapkan dalam dunia pendidikan. Hal ini mengandung pengertian bahwa filsafat pendidikan pada dasarnya menggunakan cara kerja filsafat dan akan menggunakan hasil-hasil dari kerja filsafat, yaitu berupa hasil pemikiran manusia tentang realitas, pengetahuan dan nilai.
Dalam filsafat terdapat berbagai aliran,  seperti aliran progesivisme. Karena filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat, sedangkan filsafat memiliki berbagai macam aliran, maka dalam filsafat pendidikan akan kita temukan juga berbagai macam aliran. Adapun aliran progresivisme dalam filsafat pendidikan akan kita bahas pada makalah ini.
Dari perkembangan pemikiran para filosof yang berbeda dalam menanggapi segala sesuatu, maka muncullah berbagai macam karakteristik pemikiran-pemikiran yang kemudian menjadi sebuah ciri khas dari seorang filosof sebagai hasil pemikiran tertinggi. Sejarah mencatat bahwa dalam pertumbuhan dan perkembangan filsafat terdapat berbagai macam perbedaan yang jelas dari masing-masing tokoh filsafat.
Begitu pula halnya dengan filsafat pendidikan, bahwa dalam sejarahnya telah melahirkan berbagai pandangan atau aliran. Dimana sebuah pemikiran manusia tidak akan pernah final ketika memikirkan sesuatu yang masih mungkin bisa dipikirkan. Oleh sebab itu, dunia filsafat pendidikan pun mempunyai berbagai pandangan ataupun aliran yang berbeda.
Dalam pandangannya progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum. Pengalaman menurut progresivisme bersifat dinamis dan temporal, menyela. tidak pernah sampai pada yang paling ekstrem, serta pluralistis. Menurut progresivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kebudayaan. Belajar berfungsi untuk mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan.  
Oleh sebab itu akan dikaji lebih jauh bagaimana dasar konsep progressivisme yang terus berkembang, yang mana hasil tersebut akan menjadi bahan acuan pembaharuan-pembaharuan pendidikan dalam setiap bidangnya.


  1. Rumusan Masalah
  1. Bagaimana Pengertian dan Sejarah Lahirnya Filsafat Pendidikan Progresivisme?
  2. Apa Landasan Filosofis Filsafat Pendidikan Progresivisme?
  3. Bagaimana Pandangan Filsafat Pendidikan Progresivisme Terhadap Pendidikan?
  1. Tujuan
  1. Untuk mengetahui Pengertian dan Sejarah Lahirnya Filsafat Pendidikan Progresivisme.
  2. Untuk mengetahui Landasan Filosofis Filsafat Pendidikan Progresivisme.
  3. Untuk mengetahui Pandangan Filsafat Pendidikan Progresivisme Terhadap Pendidikan.




BAB II
PEMBAHASAN
  1. Progresivisme Dalam Pengertian dan Sejarah.
1.    Pengertian Filsafat Pendidikan Progresivisme
Progresivisme secara bahasa dapat diartikan sebagai aliran yang menginginkan kemajuan-kemajuan secara cepat. Dalam konteks filsafat pendidikan, progresivisme merupakan suatu aliran yang menekankan bahwa pendidikan bukanlah sekedar upaya pemberian sekumpulan pengetahuan kepada subjek didik, tetapi hendaklah berisi ragam aktivitas yang mengarah pada pelatihan kemampuan berpikir mereka secara menyeluruh, sehingga mereka dapat berpikir secara sistematis melalui cara-cara ilmiah seperti penyediaan ragam data empiris dan informasi teoritis, memberikan analisis, pertimbangan, dan pembuatan kesimpulan menuju pemilihan alternatif yang paling memungkinkan untuk pemecahan masalah yang tengah dihadapi.
Dengan pemilikan kemampuan berpikir yang baik, subjek-subjek didik akan terampil membuat keputusan-keputusan terbaik pula untuk dirinya dan masyarakatnya serta dengan mudah pula dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.[1]
Menurut Redja Mudyaharjo, Progresivisme adalah gerakan pendidikan yang mengutamakan penyelenggaraan pendidikan disekolah berpusat pada anak (child centered), sebagai reaksi terhadap pelaksanaan pendidikan yang berpusat pada guru (teacher-centered) atau bahan pelajaran (subject-centered).[2]
Para progresivis berkeyakinan, bahwa manusia secara alamiah memiliki kemampuan-kemampuan yang wajar dan dapat menghadapi dan atau mengatasi berbagai problem kehidupannya menuju suatu perkembangan yang lebih baik, yang mengarah pada suatu progres.
2.    Sejarah Lahirnya Filsafat Pendidikan Progresivisme.
Secara historis, progresivisme ini telah muncul pada abad ke-19, namun perkembangannya secara pesat baru terlihat pada awal abad ke-20, terutama di negara Amerika Serikat. Bahkan pemikiran yang dikembangkan aliran ini pun sesungguhnya memiliki benang merah yang secara tegas dapat dilihat sejak zaman Yunani kuno.
Lahirnya filsafat pendidikan progresivisme, merupakan protes terhadap kebijakan-kebijakan pendidikan konvensional yang bersifat formalis tradisionalis yang telah diwariskan oleh filsafat abad ke-19 yang dianggapnya kurang kondusif dalam melahirkan manusia-manusia yang sejati.[3]
Dalam kesejarahannya, filsafat progressivisme bermuara pada aliran filsafat pragmatisme yang diperkenalkan  oleh  William  James  (1842-1910), dan  John  Dewey  (1859-1952),  yang  menitikberatkan  pada  segi  manfaat  bagi  hidup  praktis.  Dan  dalam  banyak  hal  progressivisme  identik  dengan pragmatisme.  Oleh  karena  itu  apabila  orang  menyebut  pragmatisme, maka berarti sama dengan progressivisme. Filsafat Progressivisme tidak mengakui kemutlakan kehidupan, menolak  absolutisme  dan  otoriterisme  dalam  segala  bentuknya,  nilai-nilai  yang  dianut  bersifat  dinamis  dan  selalu  mengalami  perubahan, sebagaimana  dikembangkan  oleh  Immanuel  Kant,  salah  seorang penyumbang  pemikir  pragmatisme-progressivisme  yang  meletakkan dasar  dengan  penghormatan  yang  bebas  atas  martabat  manusia  dan martabat  pribadi. Sehingga  filsafat  ini  menjunjung  tinggi  hak  asasi individu dan menjunjung tinggi nilai demoktratis.
Oleh karena itu, filsafat progressivisme ini dianggap sebagai the liberal  road  of  the  culture  (kebebasan  mutlak  menuju  ke  arah kebudayaan),  maksudnya  nilai-nilai  yang  dianut  bersifat  fleksibel terhadap perubahan, toleran dan terbuka (open minded), dan menuntut pribadi-pribadi penganutnya untuk selalu bersikap menjelajah, meneliti, guna  mengembangkan  pengalamannya.  Mereka  harus  memiliki  sikap terbuka dan berkemauan  baik sambil  mendengarkan kritik dan  ide-ide lawan sambil memberi kesempatan kepada mereka untuk membuktikan argumen tersebut.[4]
Tokoh Progresivisme Thomas Paine dan Thomas Jefferson memberikan sumbangan pada Progresivisme karena kepercayaan mereka pada demokrasi dan penolakan terhadap sikap yang dogmatis, terutama dalam agama. Charles S. Peirce mengemukakan teori tentang pikiran dan hal berfikir & rdquo; pikiran itu hanya berguna bagi manusia apabila pikiran itu bekerja yaitu memberikan pengalaman (hasil) baginya & rdquo;. Fungsi berfikir adalah membiasakan manusia untuk berbuat perasaan dan gerak jasmaniah adalah manifestasi dari aktifitas manusia dan keduanya itu tidak dapat dipisahkan dari kegiatan berfikir.[5]
  1. Landasan Filosofis Filsafat Pendidikan Progresivisme.
Dasar filosofis dari aliran progresivisme adalah Realisme Spiritualistik dan Humanisme Baru. Realisme spiritualistik berkeyakinan bahwa gerakan pendidikan progresif bersumber dari prinsip-prinsip spiritualistik dan kreatif dari Froebel dan Montessori serta ilmu baru tentang perkembangan anak. Sedangkan Humanisme Baru menekankan pada penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia sebagai individu. Dengan demikian orientasinya individualistik.
Progresivisme beranggapan bahwa kemajuan-kemajuan yang telah dicapai oleh manusia tidak lain adalah karena kemampuan manusia dalam mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan berdasarkan tata logis dan sisematisasi berpikir ilmiah. Oleh karena itu, tugas pendidikan adalah melatih kemampuan-kemampuan subjek didiknya dalam memecahkan berbagai masalah kehidupan yang mengarah pada pengembangan ilmu pengetahuan yang berguna bagi kehidupannya dalam masyarakat. Aliran ini memandang, bahwa yang riil adalah segala sesuatu yang dapat dialami dan dipraktikkan dalam kehidupan nyata.[6]
  1. Pandangan Filsafat Pendidikan Progresivisme Terhadap Pendidikan
Pendidikan  dalam  aliran Progressivisme  ini  muncul sebagai oposisi  atas  pendidikan  model  tradisional di Amerika Serikat, sekitar tahun 1800-an. Kebangkitan  ini  dipicu  oleh  adanya anggapan  dari  masyarakat  terutama  para pendidik  bahwa  sekolah  gagal  untuk menjaga  langkah  dari  zaman  dengan perubahan  hidup  yang  terjadi  dalam masyarakat  Amerika  itu  sendiri.  bahwa  Progressivisme  muncul untuk mereformasi  metode-metode  pendidikan tradisional. Para  pendidik progressivisme berpikiran bahwa para guru haruslah dibayar lebih banyak agar mereka lebih  banyak juga memberikan  perhatian kepada  murid-murid  secara  individu  dan menghilangkan  pandangan  atau  pendapat bahwa  semua  murid  itu  memiliki kemampuan  yang  sama.
Berdasarkan pada pandangan ini pula, maka aliran ini berpendapat bahwa pendidikan mestilah dimaknai sebagai sebuah proses yang berlandaskan pada asas pragmatis. Dengan asas ini, pendidikan bertujuan untuk memberikan pengalaman empiris kepada anak didik sehingga terbentuk pribadi yang selalu belajar dan berbuat.[7]
Oleh karena itu, sekolah  yang  ideal menurut alirannya  adalah  sekolah yang  mengaksentuasikan isi pendidikannya pada persoalan-persoalan yang terdapat di lingkungan masyarakat, serta dapat  memberi  jaminan  kepada  para siswanya  selama  ia  belajar.  Maksudnya adalah bahwa sekolah harus mampu untuk membantu  dan  menolong  siswanya  untuk bertumbuh dan berkembang serta memberi keleluasaan  tempat  untuk  para  murid untuk  mengembangkan  minat  dan bakatnya  melalui   bimbingan  para  guru.[8]
BAB III
PENUTUP
  1. Kesimpulan
a)      Progresivisme adalah gerakan pendidikan yang mengutamakan penyelenggaraan pendidikan disekolah berpusat pada anak (child centered), sebagai reaksi terhadap pelaksanaan pendidikan yang berpusat pada guru (teacher-centered) atau bahan pelajaran (subject-centered).
b)      Lahirnya filsafat pendidikan progresivisme, merupakan protes terhadap kebijakan-kebijakan pendidikan konvensional yang bersifat formalis tradisionalis yang telah diwariskan oleh filsafat abad ke-19 yang dianggapnya kurang kondusif dalam melahirkan manusia-manusia yang sejati.
c)      Dasar filosofis dari aliran progresivisme adalah Realisme Spiritualistik dan Humanisme Baru. Realisme spiritualistik berkeyakinan bahwa gerakan pendidikan progresif bersumber dari prinsip-prinsip spiritualistik dan kreatif dari Froebel dan Montessori serta ilmu baru tentang perkembangan anak. Sedangkan Humanisme Baru menekankan pada penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia sebagai individu. Dengan demikian orientasinya individualistik.
d)     bahwa pendidikan mestilah dimaknai sebagai sebuah proses yang berlandaskan pada asas pragmatis. Dengan asas ini, pendidikan bertujuan untuk memberikan pengalaman empiris kepada anak didik sehingga terbentuk pribadi yang selalu belajar dan berbuat.


DAFTAR RUJUKAN

Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan, Bandung: PT Refika Aditama, 2011,
Redja Mudyahardjo, Pengantar Pendidikan; Sebuah Studi Awal Tentang Dasar-dasar Pendidikan pada Umumnya dan Pendidikan di Indonesia, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006.
http://journal.uniera.ac.id/pdf_repository/juniera53-5i7a8ujE-4a5FZerUL4qzKqK.pdf Jurnal UNIERA Volume 2 Nomor 2; ISSN 2086-0404 Agustus 2013, Di akses (18-09-2016: 11.18)







[1] Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan, Bandung: PT Refika Aditama, 2011, Hlm. 151
[2] Redja Mudyahardjo, Pengantar Pendidikan; Sebuah Studi Awal Tentang Dasar-dasar Pendidikan pada Umumnya dan Pendidikan di Indonesia, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006, Hlm. 142
[3] Ibid, Hlm. 152
[6] Ibid, Hlm. 154
[7] Ibid, Hlm. 156
[8] http://journal.uniera.ac.id/pdf_repository/juniera53-5i7a8ujE-4a-5FZerUL4qzKqK.pdf Jurnal UNIERA Volume 2 Nomor 2; ISSN 2086-0404 Agustus 2013, Di akses (18-09-2016: 11.18)


Share:

Popular Posts

Label